Kamis, 11 Juni 2015

LAUNCHING NOVEL AYAH, ANDREA HIRATA BERBAGI CERITA



Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)

Siapa tak kenal Andrea Hirata?, Ia adalah fenomena. Rangkaian kata dan kalimatnya menawarkan sihir semangat dan daya juang tahan banting. Ia disebut-sebut telah menyumbangkan revolusi sastra tanah air dengan sentuhan novel-novelnya. Karyanya ‘Laskar Pelangi’ adalah satu dari 45 buku yang dinobatkan oleh Media Indonesia sebagai buku yang mempengaruhi Indonesia sepanjang sejarah. Penerima berbagai kehormatan serta pemenang sastra dalam maupun luar negeri, penerima beasiswa ke USA dan UK serta berbagai prestasi yang berhasil diukirnya dalam sastra maupun akademi sebagai lulusan ekonomi.  Maka suatu kehormatan dapat menghadiri launching novel kesembilan Andrea Hirata berjudul ‘Ayah’ yang diadakan di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta Pusat. Seketika gaungan semangat dan rasa tidak sabar menunggu sang penulis memenuhi Function Room lantai dua Gramedia.
“Ayah adalah novel yang sederhana, cara menulisnya sederhana, marilah kawan-kawan menyelaminya. Baca novel Ayah sebelum SBMPTN” singkat Andrea saat melukiskan novel terbarunya kepada hadirin. Riuh tepuk tangan hadirin memenuhi ruangan, hadir pula ‘Laskar Andreanis’, kelompok penyuka sastra Andrea yang menamai dirinya demikian. Duduk berbaris-baris tanpa bangku di depan muka panggung dengan mengenakan baju bertuliskan ‘Laskar Andreanis’. Perwakilan dari Penerbit Bentang, penerjemah novel Andrea, kerabat, musisi, sampai Pengacara, yang semuanya adalah kerabat dekat ataupun pihak yang pernah bekerja sama dengan Andrea dalam penggrapan novel dan film, hadir pula dalam lauunching tersebut.
Pembawa acara membuka acara dengan penuh tenaga. “Siapa yang datang paling jauh? Hayoo siapa” godanya sambil membangun antusiasme hadirin. Benar saja, namanya Azza, ia terbang langsung dari Malaysia demi menyaksikan langsung launching novel Ayah. “Oke, karena dateng langsung dari luar negeri, dikasi kesempatan buat nanya deh” ucap perempuan berkerudung coklat itu penuh ceria. Suguhan musik akustik iringan gitar dan biola dari Meda, bintang tamu sekaligus penyanyi soundtrack beberapa lagu dalam film Laskar pelangi. Tak lama waktu yang ditunggu pun tiba, Andrea Hirata memasuki panggung utama dan langsung memainkan gitar bersama Meda membawakan lagu Negeri Laskar Pelangi dalam film Edensor.
“Tiga paradigma, pertama adalah terus belajar” tukas Andrea dengan senyumnya yang khas. Tubuhnya berbalut kaus berwarna kuning, jeans, gaya rambutnya yang ikal dan topi khasnya, membuatnya terlihat casual. Hadirin menyimak. “Belajar menjadi penulis yang baik, dan yang lebih penting adalah menjadi orang baik” tambahnya. “Kedua adalah, Saya akan menunjukan dari mana saya berasal”. Rasanya paradigma yang kedua ini tak terbantahkan. Tak segan-segan Andrea Hirata mengangkat tanah kelahirannya, Belitong, ke wajah Indonesia. Mengupas Belitong dengan keindahan alam serta budaya Melayu-nya. Andrea seakan sedang ‘Memelayukan Indonesia’. “Yang terakhir adalah bersyukurlah dengan apa yang kita punya. Stop complining!!.” Tutupnya sebelum dilanjutkan dengan suguhan lagu Laskar Pelangi oleh Meda featuring Hero dengan lirik versi Indonesia dan Jepang.
Acara yang berlangsung dari pukul tiga sampai lima sore itu terasa singkat. Dalam sesi tanya jawab, seorang penanya berhasil menggiring Andrea dengan jawaban diselingi cerita dan tips menulis. Tentang riset sebuah novel, Andrea menempatkannya pada unsur penting yang bahkan bisa memakan waktu bertahun-tahun. “Novel Ayah ini riset selama enam tahun” jawabnya. Novel ini berasal dari sebuah teori yang disampaikan oleh guru ilmu bahasa dan budaya favorit saya”. Ia memparkan ada suatu teori ukur untuk mengukur power distance, yaitu hubungan antara anak dan ayah dalam Budaya Melayu. Apabila itu dibuat sebuah karya ilmiah yang dinarasikan maka lahirlah sebuah novel.
Sekali lempar dua burung terkapar. Andrea mulai menuturkan cerita perjalanannya. Kiprah karir menulisnya tak semulus yang dikira. Ia menerbitkan novel Laskar Pelangi tahun 2005, saat itu tak pernah terfikir olehnya novel itu akan diterbitkan oleh penerbit kenamaan New York yang menjadi kiblat sastra dunia. Baginya itu sulit, tapi ia adalah seorang pemimpi. “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” tukasnya dengan senyum yang menjalarkan semangat juang berkali lipat. Ia melanjutkan ceritanya mengenai perjalanan novel Laskar Pelangi yang mendunia. Begini ceritanya, saat itu, ketika novel Laskar pelangi dan film nya berhasil di tanah air, ia ditelepon langsung oleh kedutaan besar Amerika dan ditawarkan beasiswa studi sastra di University Of Lowa, USA.
Disaat yang sama juga ia sedang berjibaku menerjemahkan Laskar Pelangi dalam Bahasa Inggris. “Walaupun saat itu saya gag tahu mau diterbitkan oleh penerbit mana di luar negeri. Tapi saya dengan rekan saya itu (jajaran Penerbit Bentang pustaka diliriknya) ingin agar novel itu diterjemahkan!!”. Hadirin tersihir. Gayung pun bersambut, seorang wanita Amerika sangat menyukai film Laskar pelangi yang ditontonnya. Anggie adalah jawaban kebingungan dan ketidakcocokan penerjemah yang telah berganti-ganti. Lima bulan Andrea dan Anggie menyamakan persepsi untuk melahirkan semangat Laskar Pelangi dengan rasa yang sama.
Tak lama ia pun terbang ke Amerika. Dalam sebuah acara yang digelar kampus barunya di Amerika, bersama 37 authors penerima beasiswa sastra dari seluruh dunia, yang satu diantaranya pernah dinobatkan sebagai nominasi peraih nobel sastra. Andrea dari Belitong merasa bukan apa-apa. Ia orang Melayu dengan Bahasa inggris yang cukup (tidak lebih), merasa kerdil dalam komunitas hebat itu. “Ketika orang saling bertanya, novelmu sudah terbit dimana? Karyamu? dan lain-lain” Andrea menarik nafas. Ia bersabar dan mimpinya tetap besar. Acara itu menempatkan semua authors untuk mengadakan semacam pembacaan karya di sebuah toko buku di beberapa wilayah terpisah di Amerika.
Andrea melanjutkan, ia ditempatkan disebuah toko buku dari kota kecil sebuah negara bagian Amerika. “kalau yang lain ada yang di San Fransisco, yasudah saya mah sabar” tuturnya sambil megurut dada, hadirin tergelak. Ia sudah menduga, ditengah guyuran hujan tidak ada satu pun yang hadir saat dirinya naik ke mimbar untuk membacakan bab awal novel Laskar pelangi. Akhirnya ditengah hujan gerimis itu datanglah dua orang lelaki berseragam cleaning dan Andrea tahu itu adalah penonton suruhan dari pemilik toko yang merasa tak enak hati dengannya. Tak lama, datang pasangan yang tak kalah tragis, malah bermesraan dan tampak tidak berniat menonton pertunjukan sastra yang sedang berlangsung. Andrea tetap meneruskan narasinya, ia bersabar, di tengah guyuran hujan dan empat orang yang hadir tanpa niat.
Seorang wanita paruh baya tiba-tiba mengatupkan payungnya di depan toko. Duduk dan  menyimak pembacaan narasi Andrea sampai selesai. Mungkin yang satu ini adalah kiriman dari tuhan untuk orang yang sabar. Andrea menyelesaikan kalimatnya, wanita itu bertepuk tangan dengan anggukan. Andrea turun dan menyaliminya.
“That’s wonderful… Can I have it?” wanita itu melirik sebuah narasi di tangan Andrea
“Sure ma’am,”
“Here for you… Thank you for attending my presentation” tutup Andrea, wanita itu mengulurkan sesuatu. Memberinya sebuah kartu keramat.
Dilihatnya, dibaca cepat lalu pelan. Ia adalah Agen penerbitan di New York dan ia menyukai novel Laskar pelangi yang baru dibacakannya.
“Kaki saya gemetar, menerima kartu namanya, ini Agen dari New York” tambah Andrea menggiring semangat. Hadirin berdecak, terbawa suasana. Maka benar saja, bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Singkat cerita, beberapa bulan kemudian setelah pertemuan itu, Andrea mendapatkan pelukan mesra dari Tuhan. Pihak agen akan menerbitkan novel  Laskar Pelangi. Terjemahan bahas inggris oleh Angie bahkan dinilai sempurna, sama rasa. Laskar Pelangi pun mendunia, diterbitkan oleh agen kenamaan New York bahkan hingga saat ini telah diterjemahkan ke 34 bahasa dan diterbitkan penerbit terkemuka di 120 negara (Super bravo!!).
Andrea menuturkan. Yang juga sejalan dengan paradigma keduanya adalah, bahwa seorang penulis hebat tidak akan habis berjalan langkah demi langkah, Budaya adalah oase bagi cerita. Pandailah menganalisis, mana sebab mana akibat. Kebanyakan penulis pemula merasa bingung antara keduanya.
Duduk dua jam bersama Andrea Hirata, seolah dibawa berlayar ke samudra perjuangan dan impian. Pria berambut ikal yang juga menularkan kebiasaan untuk membaca satu buku tiga hari ini adalah penggemar karya Sapardji Djoko Damono. Ia juga menuturkan beberapa novel luar negeri yang tak pernah habis dibacanya. Pukul lima sore acara ditutup dengan sesi tanda-tangan dan foto, serta pembagian doorprize bagi pemenang lomba live tweet. 

Jakarta 1-2 Juni 2015

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates