Minggu, 28 Oktober 2012

RENUNGAN SEJENAK, APA YANG TELAH KAU BERI DAN APA YANG AKAN KAU BAWA NANTI?



Kita diciptakan tidaklah sempurna, namun dengan label yang terbaik

(Sebening Embun)

Saya melihat banyak keluasan dan semangat membangun dalam diri segelintir orang yang pernah saya temui. Saya senang menyebutnya sebagai orang yang menginspirasi dengan ketulusan dan keikhlasannya. Sebuah rasa ilahiah yang telah tertanam dalam diri masing-masing manusia. Sifat humanity dan devloper yang tak bisa kita pungkiri dalam jiwa individu-individu. Menurut penggagas ESQ, Ary Ginanjar Agustian, itulah subuah ruh tiupan tuhan yang telah buit in dalam jiwa manusia. Masalahnya sekarang adalah sejauh mana kita yakin dan dapat memanfaatkan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya sifat maha mulia Tuhan yang telah diwakilkan dlaam jiwa kita.
Kita diciptakan tidaklah sempurna, namun dengan label yang terbaik. Kadang kebaikan tidak melulu menuntut kesempurnaan baukan ?, dan kesempurnaan juga belum tentu menelurkan kebaikan. Tuhan maha tahu diri setiap manusia, bahkan lebih tahu dari kita mengenal diri kita. Dalam proses mengenal diri ini, tidak harus kesempunaan yang kita fokuskan tapi lebih pada kebaikan yang dapat kita semai dengan kecerdasan kita yang menonjol dan unggul. Prinsip Tawadzun (keseimabangan) tetaplah mengakar dalam konteks ini tentunya.
Semua penjelasan dan pelajaran yang saya temui, dengar, rasakan, dan saya jalani bahkan, sejenak mengusik batinku, Apa yang telah aku lakukan bagi sesama?. Tidak ada atau mungkin belum ada, hanya diri ini yang bisa menjawabnya. Jiwa dan fikiran ini berfikir keras tentang keeksisan kontribusi diri demi kemajuan bangsa, negara dan agama. Kapan aku bisa menjawabnya?, melaksanakannya? Atau hanya diam sambil asyik masyuk merancang angan yang sekadar blue print yang tak nyata.
Jawabannya telah kita ketahui sebenarnya, dari mana?. Dari komitmen yang kita munculkan saat ini atau bahkan kemarin, seminggu yang lalu atau bahkan sepuluh tahun yang lalu tenang kemaknaan hidup yang sebenarya. Semua terserah pada kita untuk bersedian actio atau hanya jadi seorang penggagas handal yang sukses diata kertas tanpa hasil kerja yang nyata. Ini mengetarkan jiwaku setiap aku menyaksikan keironian hidup, membuatku terus bertanya berulang-ulang: Apa yang telah aku lakukan untuk mereka? Untuk hidup mereka?. Hidup ini tidak melulu berkiprah diantara angka dan perhitungan materil tentunya. Kebahagian dan eksistensi jiwa mutlak dibutuhkan dan itu tidak berharga nilainya. Bukan karena ia rendah tapi lebih karena kebernilaian yang sangat tinggi yang membuat ia tidak bisa digantikan dengan apapun. Inilah kehausan jiwa yang  akut. Ia ingin disiram dengan hal lain yang bernama spiritual yang in action.
Tidak ada yang mati disini kecualai sudah terkubur
(silvester stylon)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates