Rabu, 21 Maret 2012
AKU MASIH INGIN MISKIN
Cerpen ini diilhami dari salah satu lagu milik Iwan Fals (namun judulnya saya lupa..:)). Sebuah lagu yang jujur dengan dunia. Saya tulis saat masih duduk di bangku SMA. Mengajarkan saya betapa hidup itu penuh dengan pilihan. Inilah kisahnya....
Deru mesin panjang itu menggebu lepas, menelan semua
yang coba menghalanginya. Keriuhan anak adam hilir mudik memungut keuntungan,
entah halal haram hantam. Jeritan mesin sedari tadi seolah terbiasa bagi lelaki
separuh baya yang terlelap disampingku. Nyenyak tanpa hambatan.
Ternyata beberapa
ayat-ayat pendek Al-Qur’an yang biasanya dapat menenangkan batinku, tetap tak
bisa menghapus pintas kejadian itu dalam ingatan. Bahkan dua stasiun kulewati
di atas kursi reot yang telah lama menopang tubuh dan penatku. Menandakan
putaran kala yang cukup panjang. Kusadari ini perbuatanku yang paling fatal
dalam perjalanan fana ini.
Nyiur angin terus
membasuh wajahku lewat jendela kereta senja, sambil bertopang dagu meratapi
diri. Kuterawang jauh di sana
sarang burung bergelayutan juga lantah langit yang mulai memalu, tanda
penjemputan dewi rembulan.
Masih dalam lamunan
penyesalan, aku meninggalkan tanah kelahiranku dengan cara yang tak terhormat.
Sebuah desa kecil nan makmur, tempatku berkeluh riang di bawah tobong sambil
bercengkerama dengan cacing-cacing tanah.Gelak tawa adik-adikku yang bermain
dengan debu-debu. Tak bisa lagi kumembayangi berapa lama aku bisa menahan rasa
rindu atas kepergian ini. Rindu tebalku tak tertahankan pada ibu, ayah, dan dua
pahlawan cilikku.
Kini, tak bisa
lagi kudengar nyayian siraman air ke atas gundukan tanah, tak bisa lagi kucium
asap pembakaran bata-bata siap jual, bahkan tak juga dengan lekatnya tanah pada
sela jariku. Sungguh rinduku terus menebal.
Aku rindu semua,
aku ingin membangun kembali kepercayaan ayah padaku, menebusnya melebihi kasih sayangnya,
jiwa tegarnya dan harga diri ayah. Memang pantas ayah kehilangan satu anak tuk
harga diri, Biarpun kami tak punya harta, tak punya gelar, namun kami masih
memiliki harga diri. Kata-kata itulah yang terus ayah pegang teguh dalam
batinnya, walau kini tubuhnya sudah merapu dimakan usia. Tapi sekarang hanya
coreng hitam yang kutinggalkan di wajah ayah dan rasa malu teramat sangat yang melekat
di keluargaku. Andaikan waktu bisa berjalan mundur, biarkan aku mengurung diri
di kamar tanpa melakukan kesalahan itu.
Tanpa terasa
tetes bening mengalir dari sudut mata, jatuh bersama harapan-harapan ibu
padaku. Ibu hanya bisa terpaku melihat ayah menamparku untuk kali pertama,
mungkin ibu yang selama ini memberi kepercayaan penuh padaku merasa tak percaya
dengan apa yang telah kulakukan. Berat hati memang tetapi apa boleh buat, ibu
lepas saja kepergianku dengan rintihan air mata saat ayah mengusirku pergi.
Kucoba tuk jelaskan apa yang terjadi, tapi ayah tak mau perduli. Ayah seret aku
keluar rumah diikuti tangisan adik-adikku yang belum mengerti apa-apa.
***
Tak ada niat apa lagi rencana, awalnya semua
berjalan seperti biasa. Setelah pulang sekolah, aku membantu orang tuaku di
tobong. Terkadang aku menyewakan jasa untuk menggembala kambing-kambing
tetangga. Uang yang kukumpulkan dari pengembalaan kambing itu bisa kutabung ,
sewaktu-waktu aku butuh tambahan untuk membeli buku pelajaran. Maklum saja
harga buku setingkat SMA memang mahal bagiku.
Orang tuaku mencari nafkah dengan mengoyak-oyak tanah,
mencetaknya dan menyusunnya hingga setinggi lima meter lebih. Bila ada pemesanan bata,
tak ayal ayah dan ibu mencetak bata hingga larut malam. Uang hasil pejualan
bata yang pas-pasan itu pun harus dipotong untuk pembayaran sewa tanah dan
pembelian kayu untuk pembakaran. Sungguh tak sebanding dengan tetes peluh
mereka. Bahkan untuk sebatang rokok pun ayah harus berfikir panjang. Kadang aku
mulai merasa jenuh dengan semua ini.
Di tengah padang
ilalang, kupuisikan hari-hariku. Semilir angin menyibakan terpaannya diiringi
nyanyian kambing-kambing yang kugembalakan. Namun itu semua masih tak bisa
memberikan jalan keluar atas masalah ini.
Kugapai kambing-kambing yang tengah asyik merumput, aku
menganggap mereka sebagai pelipur lara di tengah duka. Sambil kurapikan bulu
rimbunnya yang mulai agak kotor. Aku teringat rengekan adik-adikku subuh tadi,
sepulang dari masjid mereka meminta padaku mobil-mobilan seperti yang dimiliki
teman bermain mereka, Udin. Tak tega rasanya melihat mereka merengek seperti
itu, hanya janji-janji semu terlontar yang mungkin masih bisa menyematkan
senyum mereka.
Ditambah lagi harga penjualan bata mulai menurun akibat
musim kemarau dua bulan terakhir. Membuat persaingan penjualan bata melonjak
sedang orang tuaku hanya bisa mengurut dada. Apa yang bisa kuperbuat ? sebagai
anak lelaki pertama, ingin kuubah hidup walau hanya untuk makan sekali saja.
Setidaknya bisa kubuktikan bahwa
kelahiranku ada gunanya.
***
Pernah suatu ketika dalam perjalanan pulang dari sekolah
aku disuguhkan peristiwa tragis yang masih membekas di hati. Siang itu terasa
matahari begitu terik, bergegas kupercepat langkahku dengan sepatu yang
kusayangkan akan robek itu. Tiba-tiba dari kejauhan, terlihat sesosok wanita
paruh baya tersungkur ke tanah dibarengi suara caci maki samara-samar. Segera
kuhampiri sosok itu dengan tanya menghujan disetiap langkah. Sepertinya dari
warung Bu Hindun, sangkaku dalam hati.
Alangkah terkejutnya diriku melihat sosok itu adalah
ibunda tercintaku, segera ku gapai ibu kubantu ia bangun dengan berkaca-kaca
melihat penghinaan ini. Kuhampiri Bu Hindun yang terus berkicau, sempat terjadi
adu mulut. Kata-kata nya yang menganggap kami keluarga penghutang begitu
mengiris hati.
Tapi apa dikata, kami memang belum punya uang untuk
melunasi hutang. Terpaksa kami pulang sambil menelan semua hujatan-hujatan Bu
Hindun. Langkahku berat yang hanya bisa menyesali diri tanpa perlawanan yang
berarti. Sesampainya di rumah kupandangi wajah ayah yang menyambut ibu dengan
penuh khawatir. Wajah mereka yang begitu letih masih terus tegar di tengah
kejamnya hidup. Lekukan di wajah mereka yang semakin dalam melambangkan asam
garam kehidupan semakin pekat.
***
Seiring berjalannya waktu, penyakit-penyakit mulai
sering singgah pada ayah. Dari penyakit biasa sampai batu ginjal yang sudah beberapa bulan menggerogoti tubuh rapuhnya.
Sekarang ayah tidak bisa bekerja optimal, tentu pendapatan kami mengalami
penurunan.
Adik-adikku yang
berceloteh riang karena sebentar lagi mereka akan masuk Sekolah Dasar ditambah
lagi Ujian Nasional SMA semakin dekat, tapi kami belum punya biaya. Hanya
tabunganku dan ibu yang jumlahnya tak seberapa, itu pun terus berkurang untuk
menutupi kebutuhan sehari-hari
Ya, dunia. Mengapa hidup selalu dikait-kaitkan dengan
angka?, andai dunia penuh dengan bahasa perasaan mungkin tak ada keluarga
bernasib malang ,
mungkin hidup akan jadi lebih tolerir dengan warga miskin seperti kami.
***
Dengan masalah yang campur aduk dalam fikiranku, kujalani
keseharianku berbekal sabit dan karung tempat menaruh rumput. Kuperhatikan
betapa kambing–kambing yang gemuk pasti harganya mahal, uangnya tentu cukup
untuk membiayai kebutuhan keluargaku. Andai saja aku memiliki satu dari puluhan
kambing itu, gumamku berharap.
Entah apa yang merasukiku, ataupun pikiran kotorku yang
mulai menghantui. Dalam fikiranku sekarang hanya uang yang harus
kudapatkan dalam waktu dekat ini, padahal waktu bakar bata masih tiga bulan
lagi.
Gelap hati, gelap fikiran dan mata memang. Kuambil seekor
kambing milik Pak Jatmiko itu. Ah, satu saja tak begitu berpengaruh, toh Pak
Jatmiko masih punya ratusan kambing di peternakannya. Segera kubawa harapanku
itu ke pasar, tanpa banyak basa basi, orang-orang mulai berdatangan menawar.
Sore hari menjelang, dengan bersikap seperti biasa kupulangkan kambing-kambing
langsung kekandang. Syukurlah Pak Jatmiko tidak menaruh curiga akan
tingkahku.
Kadang hati kecilku teriak untuk apa ayah menyekolahkan
aku hingga SMA, toh akhirnya ilmu pengetahuan yang didapat malah
disalahgunakan. Tapi aku harus bagaimana lagi?, untuk makan sehari pun kami
harus berhutang, apa lagi rasa dari lauk-pauk sepertinya kami sudah lupa.
Tapi senangnya
hati ini, tak terbayang mainan apa yang akan kubelikan untuk adik-adikku, akhirnya
aku bisa mengikuti UN, adik-adikku bisa masuk sekolah seperti anak-anak lainnya
dan tak ada lagi hinaan dari Bu Hindun. Dengan uang tiga ratus ribu ini juga
sudah lebih dari cukup menghidupi keluargaku untuk beberapa bulan ke depan.
***
Di pagi buta alunan azan subuh menggema alam, paduan
kokok ayam bersautan diiringi kristal embun yang masih setia membelai dedaunan.
Namun sepertinya kudengar suara ribut sayup-sayup. Bergegas kuberanjak dari
ranjang riuhku. Kusangka masalah telah habis, tapi nampaknya tak seperti
harapan.
Pak Jatmiko datang dengan nada marah, Seketika jantungku
berdegup kencang. Aku takut masalah kambing kemarin sampai di telinga ayah.
Tiba-tiba ayah memanggilku, Langkah seret bersama rasa bersalah menyimpul dalam
benakku, Aku takut, takut ayah akan membenciku tapi kuberanikan diri untuk
bersaksi.
Pak Jatmiko yang sedari tadi berdalih bahwa kambingnya
hilang dan menuding aku yang mencurinya.
Ayah terus meyakinkan aku untuk mengatakan apa yang terjadi. Aku seakan disidang
walau sebenarnya kutahu aku akan dijatuhi hukuman. Wajahku tertunduk kaku
bertopeng penyesalan, dengan sejumput kepingan keberanianku akan kutumpahkan
kebenaran yang menusuk hati ayah. Untunglah Pak Jatmiko bisa menerima karena masih
menghargai ayah sebagai teman lama. Walaupun kutahu Pak Jatmiko belum
sepenuhnya memaafkan, terlebih lagi
ayah.
Berat hati ayah menerima kenyataan, harga dirinya yang
selalu ayah jaga dan ajarkan padaku, harus kubalas dengan corengan arang.
Setengah mati ayah menahan rasa malu dari hujatan tetangga akibat ulah bodohku.
Kini aku hanya bisa meratapi diri, kursi keretalah yang
pasti tahu dan kata-kata terakhir ayah yang tak bisa berganti.
“Ayah memang
miskin, tapi ayah bangga akan kemiskinan ini karena harga diri dan kejujuran
yang masih ayah jaga”. Tegas ayah bengis.
Pintu rumah sudah tertutup bagiku, entah kapan mereka
mau menerima diriku lagi. Bodonya aku, sumpah aku masih ingin miskin bersama
kalian lagi. Selamanya……
* Tobong adalah gubuk beratapkan
ilalang yang digunakan sebagai tempat
mencetak bata.
* Sabit adalah benda tajam semacam pisau yang berbentuk
lengkung.
- Label: Kisah
- (0) Comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar