Sabtu, 18 April 2015

Kubunuh Rindu Untukmu



Kubunuh Rindu Untukmu

Suara hati yang tiba-tiba sayu sekali menyusupi lubuk paling curam dalam kotak perasaan. Jika orang lain bertanya soal apa yang kau rasakan ?. Rasanya senyum saja sudah cukup mewakili. Meski getir coba disembunyikan dari derik-derik tawa agar terdengar biasa. Tapi perasaan kadang suka meledak dan menampakan diri seperti kembang api di malam tahun baru. Suaranya lantang namun indah dan sedap dipandang mata.
Jika suatu malam mata ini sulit terkatup karena bayanganmu menyusup. Ingin kuhapus semua ingatan yang melekat ditiap sendi-sendi fikiran. Tentang suaramu, caramu tersenyum atau janji dan kata yang melayangkan perasaan ini. Dan kau tahu aku juga tak pernah mau terlihat luluh di depanmu. Mencoba berpura-pura tidak perhatian padamu, walau sebenarnya hitungan kekhawatiran itu selalu tercecer di tiap detak waktu. Aku masih lebih suka memandang senja dengan langit malam yang pasti akan menawarkan pagi. Pagi yang lembut dengan siraman semangat dan impian-impian tidur siangku di waktu yang lalu. Maafkan lah aku. Ketika kuhapuskan setiap bagian kerinduan yang mengamuk karenamu, dan tiba-tiba diri ini menjelma seorang nelayan yang mencoba menguras laut. Takkan pernah habis. Sedangkan ikan-ikan berenang begitu dekat dimata kaki.
Ah, aku lebih senang pada bintang yang selalu menawarkan tangga. Ini galaksi yang harus kulayari dengan menurunkan layar paling kaku yang aku punya. Semoga tiap awak yang kutemui di perjalanan mau memijamkan alat pertukangannya, demi kekauan layarku.
Meski berkali kukatakan ini yang terbaik. Menyudahinya dan mencari  jelmaan pintu keluar paling kuning di ujung labirin berdinding besi ini. Seketika rembulan berbisik bahwa kau sang pemilik kunci. Menutup telinga-sepi. Jeda yang lama. Ini hati sengaja aku bekukan, agar tiap musim yang membawa aromamu terasa sama. Dingin. Agar karang-karang tetap tumbuh tanpa berpindah. Mungkin butuh berpuluh tahun lamanya untuk sekadar memanjangkan barang seinci saja dari karang yang paling indah ini. Karena ternyata laut senang berkelana dengan rembulan yang berkawan dengan bintang pula.
Ini malam, ah, aku ingin tenggelam dalam bantal paling keras dan udara panas. Agar ingatanku tidak pulih dan penuh umpatan esok pagi. Sehingga tak ada lagi sisa-sisa senyummu yang harus aku komentari.
Biarlah maaf tetap menagih pengampunan, karena meski perih, tiap kisah pasti mengandung sejarah. Memberi makna yang paling dalam buat pelakunya. Kukatakan, aku baik saja, sebagai jawaban paling singkat yang aku punya. Deretan kata itu terlepas bagai kereta kuda yang lari tanpa dikomando. Liar namun terarah. Dan aku menikmatinya demi bintang–bintang itu. Sekali lagi, ini galaksiku yang tak kusisakan sejengkal ruang hampa pun untukmu. Aku menutup wajah, mengarungi diri yang selalu menahan getir dari rindu. Ini seperti teka-teki yang kuharap tak kan pernah menemukan jawaban. Tapi orang-orang bilang, jika kau berlari mencari jawaban dari sebuah pelarian, maka ujung yang akan kau temukan adalah sebuah awal yang kau hindari. Seketika jeda. Jeda paling lama yang dikandung semesta. Kugapai sebuah belati yang ditawarkannya. Kubunuh rindu untukmu.
Jakarta, 18/04/2015

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates