Kamis, 11 Juni 2015
Bidan Fasih English itu Wajib
“Indonesia
surplus bidan di tahun 2015”. Sekiranya itulah statement yang hidup akhir-akhir ini tentang profesi kebidanan.
Pertama, well, it doesn’t go over board
actually, coba kita banyangkan berapa jumlah lulusan kebidanan tiap
tahunnya. Puluhan hingga ratusan bidan diwisuda dari berbagai universitas atau
institusi negeri maupun swasta. Akumulasikan angka lulusan itu dengan seluruh
lulusan bidan se-Indonesia. Angka yang fantastis yang kita dapatkan.
Seyogyanya, bidan melayani per 1000 penduduk. Diasumsikan jumlah penduduk
Indonesia adalah 250 juta, artinya Indonesia membutuhkan 250 ribu bidan (belum
termasuk lulusan bidan baru).
Tentuya kita
akan mendesis dalam hati, entah desisan ketidak percayaan ataupun sedikit
menyayangkan terucap. Well, don’t be sad
Midwives!!!. Ini tidak sepenuhnya kesalahan dari birokrasi kemudahan
membuka program kebidanan ataupun paradigma masyarakat tentang profesi
kebidanan sebagai profesi yang menjanjikan. Ingat, dahulunya, bidan menjadi
primadona dengan sistem ikatan dinas oleh pemerintah. Namun sekarang profesi
bidan sama saja dengan lulusan lainnya, memasuki dunia kerja dengan bekal
masing-masing. Bergelut dengan ribuan pesaing baru dan lama. Maaf, jika deskripsi
ini sedikit berlebihan tentang kondisi dunia kerja saat ini. Tapi inilah fakta
yang terjadi. Selain itu ditambah satu keironian yang kerap terjadi. Banyak
bidan-bidan yang merasa seperti ‘terjebak’ ke dalam dunianya sendiri. “Ini buka
pilihan saya!” atau “karena tidak masuk jurusan –tut-, saya jadi pilih bidan
aja deh” bahkan ada yang bilang “disuruh mamah sih”. Ini kalimat-kalimat yang
sangat disayangkan terucap dari seorang profesianal
midwife. Ninikmati dan syukuri jalanmu!, barangkali itu kalimat yang tepat
untuk menyemangati krisis semangat yang tengah melanda.
Apapun
alasan anda tentang profesi kebidanan, jika anda telah menyandang profesi ini
maka bebanggalah. Berbangga bahwa ini adalah bagian dari jalan hidup anda dan
tidak mungkin tiga tahun anda menjalankan pendidikan kalau bukan sudah tertulis
sebuah takdir untuk anda. Masalahnya adalah anda belum mendapatkan feel di dalamnya. Bermacam isu dan rumor
serta cara pandang masyarakat yang telah bergeser membuat hati anda tak lagi
bangga. Ini ironis. Siapa lagi yang mengangkat suatu profesi jika bukan
penyandang profesi itu sendiri.
Tidak usah
bergusar dengan berbagai rumor dan berita burung di luar sana. Kita sama-sama
faham bahwa dunia kerja semakin sulit, ditambah lagi AFTA (Asia Free Trade
Area) tahun 2015 tengah kita jalani. Sebuah kesempatan bagi semua Negara Asean
untuk memasuki pasar bebas. Life is a strugle,
tidak bisa dihindari, anda harus mempersiapkan diri dengan jurus dan bekal yang
banyak.
Salah
satunya adalah dengan belajar bahasa internasional, Bahasa Inggris. Banyak sekali
saat ini program pelatihan maupun beasiswa yang di tawarkan dalam taraf
internasional, tentu denga persyaratan TOEFL IBT atau ITP, maupun IELTS yang
memenuhi standar.
Tidak ada
ruang bagi kita untuk berkecil hati. Ingatlah, tiap manusia adalah unik,
memiliki kelebihan masing-masing dengan garis hidup masing-masing. Alangkah
bijak jika saya mengutip salah satu kalimat dalam film The Secret “There’s always enough anything in this
word” when you say it, the universe will say back that “Your wish is my
command!”.
- Label: Materi Kebidanan
- (0) Comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar