Sabtu, 18 April 2015
Gramedia Pustaka Utama Beberkan Rahasia Penerbitan lewat Bedah Buku ‘Insya Allah, sah!’
Malam ini saya merasa seperti memiliki
hutang berbagi kepada kawan-kawan calon penulis, penulis pemula, penulis,
ataupun penikmat sastra tentang sedikit ilmu penerbitan dan cerita inspiratif.
Untuk itu tidak adil rasanya informasi ini cukup dinikmati sendiri. Terimakasi
kepada Mas Filin sebagai pemberi informasi serta Mbak Dala yang memberikan
arahan sampai tiba di tempat acara. Bertemu beberapa angkatan FLP DKI senior
(Mas lamuna, Mbak Ria, dll) memberikan kesan bahwa menulis terus dilakoni
apapun kesibukan yang membelit. Sobat Winda yang menemani saya, kami seolah
menjelma dua kurcaci bermata lebar yang haus akan pengalaman.
Gramedia Pustaka Utama Beberkan Rahasia Penerbitan
Lewat Bedah Buku
‘Insya Allah, sah!’
Bedah buku karya mbak Achi TM yang
berjudul ‘Insya Allah, sah!’ di Gramedia Central Park yang di jadwalkan pukul
tiga sore itu berlangsung semarak. Kesan Pink dan merah seketika menyeruak
sebagai drescode bagi undangan yang
hadir dalam acara tersebut. Meskipun hujan deras sempat mendera, semangat
mencari ilmu dan menyerap energi positif dari penulis-penulis produktif tetap
harus dijunjung tinggi.. Acara bedah buku sekaligus gathering Komunitas Rumah Pena Talenta itu menghadirkan Mbak Raya
selaku editor dari pihak Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU).
Acara yang juga di hadiri beberapa
anak yatim itu dibuka dengan sapaan yang hangat dari moderator. Mbak Achi TM,
penulis berbagai judul buku dan script
sinetron itu berkisah mengenai awal mula dirinya tertarik menulis novel islami.
Ia menuturkan bahwa pada awalnya menulis novel islami ini merupakan wujud dari
nazdar (janji) ketika dirinya kehilangan laptop kesayangan dan tiga bungkus rendang
serta olahan balado saat tiba di bandara Kota Padang.
“Dalam hati saya bernadzar, kalau
laptop saya ketemu, maka saya akan menyelesaikan naskah novel islalmi” tuturnya
penuh semangat. “Bagi seorang penulis, kehilangan laptop itu sakitnya disini,
pilih mana? Mau kehilangan laptop atau suami? Lho?” ujar Mbak Achi diikuti tawa hadirin. Singkat cerita, laptop
kesayangan ternyata masi berjodoh dan nazdar pun telah terucap. Tak disangka kejadian
itu malah memberikannya kesempatan besar. Gaya penuturan Mbak Achi yang khas
dan kocak membuat hadirin terpikat mendengarkan cerita singkatnya yang berakhir
pada lahirnya novel ‘Insya Allah, sah!’ yang berhasil menembus meja redaksi GPU.
Gramedia Pustaka Utama yang dikenal banyak menerbitkan buku-buku berbagai macam
genre ini, oleh Mbak Achi dirasa
janggal pada awalnya ketika tiba-tiba menawarkan dirinya untuk menulis novel
bergenre islami. Gayung pun bersambut, kesempatan yang ditawarkan editor pada
Mbak Achi di sambut sigap sebagai kompensasi dari nadzarnya.
Sebuah draft akhirnya sampai ke meja redaksi dan ternyata penjuangan belum
berakhir. Menerima revisi di sana-sini, menghilangkan bagian yang dianggap
kurang penting bahkan sampai harus rela melenyapkan satu bab pun sabar dijalani
oleh Mbak Achi. “Tapi ini kan sama saja ngilangin
hampir 25% nya Mbak” ujar Mbak Achi menirukan komentarnya saat bagian novelnya
diminta untuk dihilangkan oleh Mbak Raya selaku editor. “Tapi setelah saya edit
ulang sesuai permintaan, kemudian saya abaca kembali, eh, kok nambah enak ya, terasa lebih manis” sambung Mbak Achi penuh
antusias. Terlihat Mbak Raya sang editor, yang pada kesempatan itu hadir
sebagai pembicara mewakili Gramedia Pustaka Utama, menyodorkan senyum penuh anggukan
seolah mengingat betul proses panjang pelahiran novel ‘Insya Allah, sah!’. Intinya adalah seorang penulis harus pantang
menyerah dan jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang tersedia di depan
mata, serta kerja sama editor sangat membantu melahirkan karya yang enak di
baca, tambah Mbak Achi menutup ceritanya.
Berlih ke pembicara ke dua, Mbak Raya,
memberikan beberapa informasi penting terkait kriteria GPU dalam menerima
naskah islami, diantaranya;
- Tokoh yang diangkat bukanlah tokoh yang melulu sempurna dengan berbagai penak-pernik fenomena kehidupan islami yang kaku. Kita menginginkan tokoh yang berbeda, tokoh yang ketika pembaca menikmatinya dapat merasakan kejadian yang sama juga dialaminya. Dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Penerbit seolah ingin menampilkan kehidupan islami yang lebih longgar, dalam artian novel islami tidak harus berkisah seputar kehidupan pesantren, pengajian atau pun berlatar suasan masjid saja.
- Tidak menggurui meskipun sebenarnya kisah tersebut mengajarkan banyak makna. “Kita mengharapkan sebuah cerita yang bisa menampar pembaca, namun dengan cara tidak ingin menampar” tukas Mbak Raya dalam perumpamaan.
- Bagaimana nilai-nilai keislaman selalu hadir menjadi konflik pada si tokoh untuk selalu bangkit dari keterpurukan.
- Hindari kisah novel berbau SARA.
Dalam kesempatan itu juga Mbak Raya
juga memberikan beberapa contoh novel islami mengenai kisah-kisah pencarian
makna islam yang berhasil cetak di GPU.
Pada sesi tanya jawab Mbak Achi
membagikan tips menulis dalam keadaan sesibuk apapun. “Sedang mencuci piring
pun, kita masih terus istiqomah pada
jalan cerita” ungkapnya saat menjawab salah satu pertanyaan. Selain itu, kiat
selanjutnya adalah teruslah memikirkan ide cerita dan segera tuangkan dalam
tulisan ketika ada kesempatan.
Dalam pertanyaan lain, Mbak Raya juga
mengungkapkan bahwa novel fiksi adalah tentang kepiawaian imajinasi si penulis.
Ia melemparkan pertanyaan mengenai mengapa novel Twilight atau Harry Potter itu
laku keras?, singkat saja, karena novel-novel tersebut memberikan imajinansi di
luar kehidupan sehari-hari yang menawarkan atmosfir berbeda bagi pembaca.
Namun, perlu diingat bahwa jika kita hanya berimajinasi saja tanpa
menuliskannya maka kita bukanlah penulis tapi seorang penghayal.
Acara yang juga membuka drop box
langsung oleh pihak GPU itu menambah antusiasme para penulis yang ingin
mengrimkan naskahnya, sebab naskah yang masuk hari itu akan lebih
diprioritaskan. Pemberian santunan anak yatim secara simbolis serta pemilihan drescode terbaik menambah semarak acara
sebelum ditutup dengan sesi foto-foto dan tanda tangan pada novel langsung oleh
penulis. (Jakarta,18/04/15)
- Label: Reportase
- (1) Comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Ttimakasih Mb Vera, untuk laporannya, serasa ikut acaranya...
Posting Komentar