Sabtu, 18 April 2015

ESQ itu PENTING!!

Kecerdasan intelegent (IQ) merupakan bentuk kecerdasan yang dibutuhkan demi kemajuan. Menjawab tantangan global yang semakin membuka pintu persaingan sengit di segala bidang kehidupan. Namun apakah kecerdasan intelegent sudah cukup mengantarkan seseorang pada kesuksesan?, sukses hidup dunia akhirat?.
Sebuah penelitian para ahli menunjukan bahwa IQ hanya berdistribusi 6-20% dalam mencapai sukses hidup.
Lalu pertanyaannya, apa yang sebenarnya berpengaruh lebih extreem dalam menuju hidup yang tak hanya sukses di dunia, namun juga sukses di akhirat ?.

Dalam menjawab kebutuhan hati, apakah anda pernah dihadapkan dengan banyak pertanyaan yang melayang-layang dalam pikiran anda. Misalnya pertanyaan yang tiba-tiba muncul saat anda sedang kuliah di dalam kelas, saat sedang memasak, menyetir mobil, atau aktifitas apapun yang anda lakukan. Seperti angin semilir tiba, pertanyaan-prtanyaan itu mampir begitu saja dalam otak anda.
Jika ya, maka sebenarnya anda sedang dalam pencarian jati diri anda akan makna hidup yang sebenarnya. Sebuah perjalanan panjang mencari makna hidup. Namun apabila oase jati diri itu telah ditemukan dalam gersangnya gurun pencarian, maka dahaga pencarian itu tuntas seketika.
Hal yang dibutuhkan lebih penting dari sekadar IQ yaitu Emosional Quotien (EQ). Emosional Quaotien (EQ) merupakan bentuk pendidikan hati yang merancang diri anda untuk lebih bisa menguasai keadaan hati.

Kubunuh Rindu Untukmu



Kubunuh Rindu Untukmu

Suara hati yang tiba-tiba sayu sekali menyusupi lubuk paling curam dalam kotak perasaan. Jika orang lain bertanya soal apa yang kau rasakan ?. Rasanya senyum saja sudah cukup mewakili. Meski getir coba disembunyikan dari derik-derik tawa agar terdengar biasa. Tapi perasaan kadang suka meledak dan menampakan diri seperti kembang api di malam tahun baru. Suaranya lantang namun indah dan sedap dipandang mata.
Jika suatu malam mata ini sulit terkatup karena bayanganmu menyusup. Ingin kuhapus semua ingatan yang melekat ditiap sendi-sendi fikiran. Tentang suaramu, caramu tersenyum atau janji dan kata yang melayangkan perasaan ini. Dan kau tahu aku juga tak pernah mau terlihat luluh di depanmu. Mencoba berpura-pura tidak perhatian padamu, walau sebenarnya hitungan kekhawatiran itu selalu tercecer di tiap detak waktu. Aku masih lebih suka memandang senja dengan langit malam yang pasti akan menawarkan pagi. Pagi yang lembut dengan siraman semangat dan impian-impian tidur siangku di waktu yang lalu. Maafkan lah aku. Ketika kuhapuskan setiap bagian kerinduan yang mengamuk karenamu, dan tiba-tiba diri ini menjelma seorang nelayan yang mencoba menguras laut. Takkan pernah habis. Sedangkan ikan-ikan berenang begitu dekat dimata kaki.
Ah, aku lebih senang pada bintang yang selalu menawarkan tangga. Ini galaksi yang harus kulayari dengan menurunkan layar paling kaku yang aku punya. Semoga tiap awak yang kutemui di perjalanan mau memijamkan alat pertukangannya, demi kekauan layarku.
Meski berkali kukatakan ini yang terbaik. Menyudahinya dan mencari  jelmaan pintu keluar paling kuning di ujung labirin berdinding besi ini. Seketika rembulan berbisik bahwa kau sang pemilik kunci. Menutup telinga-sepi. Jeda yang lama. Ini hati sengaja aku bekukan, agar tiap musim yang membawa aromamu terasa sama. Dingin. Agar karang-karang tetap tumbuh tanpa berpindah. Mungkin butuh berpuluh tahun lamanya untuk sekadar memanjangkan barang seinci saja dari karang yang paling indah ini. Karena ternyata laut senang berkelana dengan rembulan yang berkawan dengan bintang pula.
Ini malam, ah, aku ingin tenggelam dalam bantal paling keras dan udara panas. Agar ingatanku tidak pulih dan penuh umpatan esok pagi. Sehingga tak ada lagi sisa-sisa senyummu yang harus aku komentari.
Biarlah maaf tetap menagih pengampunan, karena meski perih, tiap kisah pasti mengandung sejarah. Memberi makna yang paling dalam buat pelakunya. Kukatakan, aku baik saja, sebagai jawaban paling singkat yang aku punya. Deretan kata itu terlepas bagai kereta kuda yang lari tanpa dikomando. Liar namun terarah. Dan aku menikmatinya demi bintang–bintang itu. Sekali lagi, ini galaksiku yang tak kusisakan sejengkal ruang hampa pun untukmu. Aku menutup wajah, mengarungi diri yang selalu menahan getir dari rindu. Ini seperti teka-teki yang kuharap tak kan pernah menemukan jawaban. Tapi orang-orang bilang, jika kau berlari mencari jawaban dari sebuah pelarian, maka ujung yang akan kau temukan adalah sebuah awal yang kau hindari. Seketika jeda. Jeda paling lama yang dikandung semesta. Kugapai sebuah belati yang ditawarkannya. Kubunuh rindu untukmu.
Jakarta, 18/04/2015

Gramedia Pustaka Utama Beberkan Rahasia Penerbitan lewat Bedah Buku ‘Insya Allah, sah!’




Malam ini saya merasa seperti memiliki hutang berbagi kepada kawan-kawan calon penulis, penulis pemula, penulis, ataupun penikmat sastra tentang sedikit ilmu penerbitan dan cerita inspiratif. Untuk itu tidak adil rasanya informasi ini cukup dinikmati sendiri. Terimakasi kepada Mas Filin sebagai pemberi informasi serta Mbak Dala yang memberikan arahan sampai tiba di tempat acara. Bertemu beberapa angkatan FLP DKI senior (Mas lamuna, Mbak Ria, dll) memberikan kesan bahwa menulis terus dilakoni apapun kesibukan yang membelit. Sobat Winda yang menemani saya, kami seolah menjelma dua kurcaci bermata lebar yang haus akan pengalaman.

Gramedia Pustaka Utama Beberkan Rahasia Penerbitan
Lewat Bedah Buku ‘Insya Allah, sah!’


Bedah buku karya mbak Achi TM yang berjudul ‘Insya Allah, sah!’ di Gramedia Central Park yang di jadwalkan pukul tiga sore itu berlangsung  semarak.  Kesan Pink dan merah seketika menyeruak sebagai drescode bagi undangan yang hadir dalam acara tersebut. Meskipun hujan deras sempat mendera, semangat mencari ilmu dan menyerap energi positif dari penulis-penulis produktif tetap harus dijunjung tinggi.. Acara bedah buku sekaligus gathering Komunitas Rumah Pena Talenta itu menghadirkan Mbak Raya selaku editor dari pihak Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU).
Acara yang juga di hadiri beberapa anak yatim itu dibuka dengan sapaan yang hangat dari moderator. Mbak Achi TM, penulis berbagai judul buku dan script sinetron itu berkisah mengenai awal mula dirinya tertarik menulis novel islami. Ia menuturkan bahwa pada awalnya menulis novel islami ini merupakan wujud dari nazdar (janji) ketika dirinya kehilangan laptop kesayangan dan tiga bungkus rendang serta olahan balado saat tiba di bandara Kota Padang.
“Dalam hati saya bernadzar, kalau laptop saya ketemu, maka saya akan menyelesaikan naskah novel islalmi” tuturnya penuh semangat. “Bagi seorang penulis, kehilangan laptop itu sakitnya disini, pilih mana? Mau kehilangan laptop atau suami? Lho?” ujar Mbak Achi diikuti tawa hadirin. Singkat cerita, laptop kesayangan ternyata masi berjodoh dan nazdar pun telah terucap. Tak disangka kejadian itu malah memberikannya kesempatan besar. Gaya penuturan Mbak Achi yang khas dan kocak membuat hadirin terpikat mendengarkan cerita singkatnya yang berakhir pada lahirnya novel ‘Insya Allah, sah!’ yang berhasil menembus meja redaksi GPU. Gramedia Pustaka Utama yang dikenal banyak menerbitkan buku-buku berbagai macam genre ini, oleh Mbak Achi dirasa janggal pada awalnya ketika tiba-tiba menawarkan dirinya untuk menulis novel bergenre islami. Gayung pun bersambut, kesempatan yang ditawarkan editor pada Mbak Achi di sambut sigap sebagai kompensasi dari nadzarnya.
Sebuah draft akhirnya sampai ke meja redaksi dan ternyata penjuangan belum berakhir. Menerima revisi di sana-sini, menghilangkan bagian yang dianggap kurang penting bahkan sampai harus rela melenyapkan satu bab pun sabar dijalani oleh Mbak Achi. “Tapi ini kan sama saja ngilangin hampir 25% nya Mbak” ujar Mbak Achi menirukan komentarnya saat bagian novelnya diminta untuk dihilangkan oleh Mbak Raya selaku editor. “Tapi setelah saya edit ulang sesuai permintaan, kemudian saya abaca kembali, eh, kok nambah enak ya, terasa lebih manis” sambung Mbak Achi penuh antusias. Terlihat Mbak Raya sang editor, yang pada kesempatan itu hadir sebagai pembicara mewakili Gramedia Pustaka Utama, menyodorkan senyum penuh anggukan seolah mengingat betul proses panjang pelahiran novel ‘Insya Allah, sah!’.  Intinya adalah seorang penulis harus pantang menyerah dan jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang tersedia di depan mata, serta kerja sama editor sangat membantu melahirkan karya yang enak di baca, tambah Mbak Achi menutup ceritanya.
Berlih ke pembicara ke dua, Mbak Raya, memberikan beberapa informasi penting terkait kriteria GPU dalam menerima naskah islami, diantaranya;

  1.  Tokoh yang diangkat bukanlah tokoh yang melulu sempurna dengan berbagai penak-pernik fenomena kehidupan islami yang kaku. Kita menginginkan tokoh yang berbeda, tokoh yang ketika pembaca menikmatinya dapat merasakan kejadian yang sama juga dialaminya. Dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Penerbit seolah ingin menampilkan kehidupan islami yang lebih longgar, dalam artian novel islami tidak harus berkisah seputar kehidupan pesantren, pengajian atau pun berlatar suasan masjid saja.
  2. Tidak menggurui meskipun sebenarnya kisah tersebut  mengajarkan banyak makna. “Kita mengharapkan sebuah cerita yang bisa menampar pembaca, namun dengan cara tidak ingin menampar” tukas Mbak Raya dalam perumpamaan.
  3. Bagaimana nilai-nilai keislaman selalu hadir menjadi konflik pada si tokoh untuk selalu bangkit dari keterpurukan.
  4. Hindari kisah novel berbau SARA.        

Dalam kesempatan itu juga Mbak Raya juga memberikan beberapa contoh novel islami mengenai kisah-kisah pencarian makna islam yang berhasil cetak di GPU.
Pada sesi tanya jawab Mbak Achi membagikan tips menulis dalam keadaan sesibuk apapun. “Sedang mencuci piring pun, kita masih terus istiqomah pada jalan cerita” ungkapnya saat menjawab salah satu pertanyaan. Selain itu, kiat selanjutnya adalah teruslah memikirkan ide cerita dan segera tuangkan dalam tulisan ketika ada kesempatan.
Dalam pertanyaan lain, Mbak Raya juga mengungkapkan bahwa novel fiksi adalah tentang kepiawaian imajinasi si penulis. Ia melemparkan pertanyaan mengenai mengapa novel Twilight atau Harry Potter itu laku keras?, singkat saja, karena novel-novel tersebut memberikan imajinansi di luar kehidupan sehari-hari yang menawarkan atmosfir berbeda bagi pembaca. Namun, perlu diingat bahwa jika kita hanya berimajinasi saja tanpa menuliskannya maka kita bukanlah penulis tapi seorang penghayal.
Acara yang juga membuka drop box langsung oleh pihak GPU itu menambah antusiasme para penulis yang ingin mengrimkan naskahnya, sebab naskah yang masuk hari itu akan lebih diprioritaskan. Pemberian santunan anak yatim secara simbolis serta pemilihan drescode terbaik menambah semarak acara sebelum ditutup dengan sesi foto-foto dan tanda tangan pada novel langsung oleh penulis. (Jakarta,18/04/15)

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates