Minggu, 28 Oktober 2012
YANG MUDA YANG BERKARYA, LALU APA KARYAMU?
Hiduplah dengan hatimu, bukan fikranmu
Hati akan membawa fikiran ke mata air, fikiran akan membawa hatimu ke jalan tak berujung
(Gol A Gong)
Malam
yang menginspirasi bersama Metro TV. Tangan ini seakan gatal jika tidak
menuliskan kisah bersemangat yang kusaksikan. Jari ini segera menari diatas
tuts “Si Black” laptop tercinta. Ini dia salah satu bentuk pengabdian
perusahaan bonafit yang tetap perduli kemajuan bangsa. Salut untuk PT. ASTRA. Satu (Semangat Astra Untuk) Indonesia
Awwards yang dipersembahkan oleh PT. Astra Internasional Indonesia.
Diawali
dengan puisi nasionalis yang gagah dibacakan oleh Dian Sastro. Dian Sstro
tampil dengan balutan busanan tradisional yang sederhana nan anggun. Seakan
memompakan berjuta kubik semangat menyambut lahirnya pahlawan-pahlawan muda
Indonesia.
Satu
persatu kategori awward dibacakan oleh Charles Bonar Sirait dan Artika Sari Devi.
Ssampailah pada pembacaan kategori pertama yaitu Katergori Bidang Lingkungan
hidup yang diraih oleh siswa SMA bernama Darma sucipto berusia 18 tahun dengan
menggaas jajanan sehat dari Gresik. Bersama teman-temannya ia menyulap halaman
kosong sekolahnya menjadi kebun ubi jalar yang bergizi. Dengan harga jual yang
rendah namun memberikan manfaat besar bagi kelangsungan hidup rakyat banyak.
Karena sikap kreatif dari pemikiran yang digagasnya, banyak sekolah-sekolah
yang mulai mengikuti langkah siswa berjiwa sosial ini.
Ketegori
selanjutnya, Katergori bidang pendidikan dibacakan oleh Mantan Wamen Kesehatan
2010-2011, Bpk Fasli Jalal. Mengisahkan kontribusi seorang anak usia 18 tahun
yang mengelorakan semangat membaca bagi warga yang kurang mampu. Perpustakaan
untuk semua digagasnya. Pembebas Buta huruf dan inovator sepanjang hayat, Eko
Cahyono dari Malang. Rak buku berderet-deret dengan tataan rapih menggambarkan
semangatnya menyalakan lentera literasi Indonesia.
Intermezzo:
Lagu laskar pelangi menjadi paduan yang apik dalam acara awwards yang
menginspirasi. Alunan suara 5romeo menambah kekaguman dari pahlawan-pahlawan
muda Indonesia. Bentuk kepahlawanan masa kini yang lebih elegan dan menyatu.
Inilah potongan lagu yang menginspirasi jiwa muda Indonesia. Sedikit potongan
lagu menginspirasi pada malam penghargaan ini:
Menarilah dan terus tertawa, walau
dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa, cinta
kita di dunia, selamanya....
(Nidji
Band oleh 5 Romeo)
Lagu-lagu
selanjutnya pun mengalun indah dari suara aktris dan peyanyi profesional
seperti Putri Ayu yang membawakan lagu daerah Pisau serit. Suara yang energik
dipadu dengan paduan musik apik dari Yopie Widianto Light Orkestra.
Kategori
berkutnya yaitu Kategori bidang Kewirausahaan yang dibacakan oleh ibu Tri
Mumpuni. Beliau mengungkapkan, Ulet, pantang putus asa, dan berani mengambil
resiko adalah tiga hal pokok yang mendasari ketangguhan dan semangat Novianto.
Usianya baru 33 tahun, namun Novianto telah berhasil memberikan semangat bagi
rakyat sekitar dengan gagasannya yaitu sebuah pabrik keju kerakyatan di
Boyolali.
Kembali
diselingi sebuah puisi menginspirasi dari Dian Sastro yang mengungkapkan
indahnya kerjasama dan kedamaian melalui saling berbagi, kemudian diikuti
lantunan suara Sani Shandoro yang menghentak.
Hingar bingar ska cukup
mendominasi Ball room luas tempat acara prestisius ini. Sebuah lagu dengan misi
pesan damai gubahan Guruh Soekarno memunculkan energi positif. Lagu kedua hadir
dengan membawa kenangan pada sosok Krisye, dialunkan lembut dengan suara Sani
yang penuh energi.
Penggerak
kesehatan ibu dan anak, ibu Rosmiati dari Riau menjadi penerima penghargaan
dalam kategori bidang kesehatan. Hmm, ini bGIn Yng menyatu dengan almamater
yang kusandang. Tapi sayang aku melewatkan detik-detik penerimaan penghargaan
karena pinah chanel.. Yang kusaksikan hanya saat penerimaan simbolis
penghargaan oleh suami Ibu Rosmiati, beliau tidak bisa hadir karena proses
kelahiran anaknya. Hmm,,sekali lagi, aku lebih suka atmosfir ini. Kebaktiannya
yang tulus dengan profesi kesehatannya. Ini menginspirasi.....^_^
Selanjutnya,
Kategori bidang teknologi di bacakan oleh Bpk Ono Purbo, pakar teknologi dan
Informasi. Kategori Bidang teknologi berhasil diraih seorang pemuda kreatif
yang prihatin dengan keadaan desanya yang belum teraliri listrik. Ide dari
seorang pemuda membuat kincir air bersama dengan warga desa untuk membentuk
listrik desa. Listrik desa yang ikut menyalakan kegirangan bocah-bocah ketika
belajar bersama dibawah sinaran lampu yang mengantarkannya pada masa depan yang
lebih baik. Ide cemerlang ini berawal dari seorang pemuda 24 tahun pada tahun
2008. Dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga air membuat harapan desa
menyala, bukanlah lagi sekadar asa. Bahkan ia berhasil menginspirasi desa-desa
lain untuk ikut mencontoh kiat sukses dari desanya. Pecetus terang desa dari
Makasar, Harianto Albar.
Suara
lembut dan energi dari Dian Sastro kembali membumi....
Diakhir
acara kedua pembawa acara menyampaikan besar royalti dari Aresiasi ini untuk
masing-masing peraih penghargaan sejumlah 55juta rupiah. Bagi pemenang favorit pilihan
publik terfavorit diraih oleh Eko Cahyono Sang pembebas buta huruf dari malang,
dengan tambahan royalti sebesar 10 juta rupiah.
INSPIRING......^_^
Hal yang besar bermula dari yang kecil,
(Charles Bonar Sirait)
- Label: Motivasi
- (2) Comments
RENUNGAN SEJENAK, APA YANG TELAH KAU BERI DAN APA YANG AKAN KAU BAWA NANTI?
Kita diciptakan tidaklah sempurna, namun dengan label yang terbaik
(Sebening Embun)
Saya
melihat banyak keluasan dan semangat membangun dalam diri segelintir orang yang
pernah saya temui. Saya senang menyebutnya sebagai orang yang menginspirasi
dengan ketulusan dan keikhlasannya. Sebuah rasa ilahiah yang telah tertanam
dalam diri masing-masing manusia. Sifat humanity dan devloper yang tak bisa
kita pungkiri dalam jiwa individu-individu. Menurut penggagas ESQ, Ary Ginanjar
Agustian, itulah subuah ruh tiupan tuhan yang telah buit in dalam jiwa manusia.
Masalahnya sekarang adalah sejauh mana kita yakin dan dapat memanfaatkan
sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya sifat maha mulia Tuhan yang telah
diwakilkan dlaam jiwa kita.
Kita
diciptakan tidaklah sempurna, namun dengan label yang terbaik. Kadang kebaikan
tidak melulu menuntut kesempurnaan baukan ?, dan kesempurnaan juga belum tentu
menelurkan kebaikan. Tuhan maha tahu diri setiap manusia, bahkan lebih tahu
dari kita mengenal diri kita. Dalam proses mengenal diri ini, tidak harus
kesempunaan yang kita fokuskan tapi lebih pada kebaikan yang dapat kita semai
dengan kecerdasan kita yang menonjol dan unggul. Prinsip Tawadzun
(keseimabangan) tetaplah mengakar dalam konteks ini tentunya.
Semua
penjelasan dan pelajaran yang saya temui, dengar, rasakan, dan saya jalani
bahkan, sejenak mengusik batinku, Apa yang telah aku lakukan bagi sesama?.
Tidak ada atau mungkin belum ada, hanya diri ini yang bisa menjawabnya. Jiwa
dan fikiran ini berfikir keras tentang keeksisan kontribusi diri demi kemajuan
bangsa, negara dan agama. Kapan aku bisa menjawabnya?, melaksanakannya? Atau
hanya diam sambil asyik masyuk merancang angan yang sekadar blue print yang tak
nyata.
Jawabannya
telah kita ketahui sebenarnya, dari mana?. Dari komitmen yang kita munculkan
saat ini atau bahkan kemarin, seminggu yang lalu atau bahkan sepuluh tahun yang
lalu tenang kemaknaan hidup yang sebenarya. Semua terserah pada kita untuk
bersedian actio atau hanya jadi seorang penggagas handal yang sukses diata
kertas tanpa hasil kerja yang nyata. Ini mengetarkan jiwaku setiap aku menyaksikan
keironian hidup, membuatku terus bertanya berulang-ulang: Apa yang telah aku
lakukan untuk mereka? Untuk hidup mereka?. Hidup ini tidak melulu berkiprah
diantara angka dan perhitungan materil tentunya. Kebahagian dan eksistensi jiwa
mutlak dibutuhkan dan itu tidak berharga nilainya. Bukan karena ia rendah tapi
lebih karena kebernilaian yang sangat tinggi yang membuat ia tidak bisa
digantikan dengan apapun. Inilah kehausan jiwa yang akut. Ia ingin disiram dengan hal lain yang
bernama spiritual yang in action.
Tidak ada yang mati disini kecualai
sudah terkubur
(silvester stylon)
- Label: Motivasi
- (0) Comments
Rabu, 21 Maret 2012
AKU MASIH INGIN MISKIN
Cerpen ini diilhami dari salah satu lagu milik Iwan Fals (namun judulnya saya lupa..:)). Sebuah lagu yang jujur dengan dunia. Saya tulis saat masih duduk di bangku SMA. Mengajarkan saya betapa hidup itu penuh dengan pilihan. Inilah kisahnya....
Deru mesin panjang itu menggebu lepas, menelan semua
yang coba menghalanginya. Keriuhan anak adam hilir mudik memungut keuntungan,
entah halal haram hantam. Jeritan mesin sedari tadi seolah terbiasa bagi lelaki
separuh baya yang terlelap disampingku. Nyenyak tanpa hambatan.
Ternyata beberapa
ayat-ayat pendek Al-Qur’an yang biasanya dapat menenangkan batinku, tetap tak
bisa menghapus pintas kejadian itu dalam ingatan. Bahkan dua stasiun kulewati
di atas kursi reot yang telah lama menopang tubuh dan penatku. Menandakan
putaran kala yang cukup panjang. Kusadari ini perbuatanku yang paling fatal
dalam perjalanan fana ini.
Nyiur angin terus
membasuh wajahku lewat jendela kereta senja, sambil bertopang dagu meratapi
diri. Kuterawang jauh di sana
sarang burung bergelayutan juga lantah langit yang mulai memalu, tanda
penjemputan dewi rembulan.
Masih dalam lamunan
penyesalan, aku meninggalkan tanah kelahiranku dengan cara yang tak terhormat.
Sebuah desa kecil nan makmur, tempatku berkeluh riang di bawah tobong sambil
bercengkerama dengan cacing-cacing tanah.Gelak tawa adik-adikku yang bermain
dengan debu-debu. Tak bisa lagi kumembayangi berapa lama aku bisa menahan rasa
rindu atas kepergian ini. Rindu tebalku tak tertahankan pada ibu, ayah, dan dua
pahlawan cilikku.
Kini, tak bisa
lagi kudengar nyayian siraman air ke atas gundukan tanah, tak bisa lagi kucium
asap pembakaran bata-bata siap jual, bahkan tak juga dengan lekatnya tanah pada
sela jariku. Sungguh rinduku terus menebal.
Aku rindu semua,
aku ingin membangun kembali kepercayaan ayah padaku, menebusnya melebihi kasih sayangnya,
jiwa tegarnya dan harga diri ayah. Memang pantas ayah kehilangan satu anak tuk
harga diri, Biarpun kami tak punya harta, tak punya gelar, namun kami masih
memiliki harga diri. Kata-kata itulah yang terus ayah pegang teguh dalam
batinnya, walau kini tubuhnya sudah merapu dimakan usia. Tapi sekarang hanya
coreng hitam yang kutinggalkan di wajah ayah dan rasa malu teramat sangat yang melekat
di keluargaku. Andaikan waktu bisa berjalan mundur, biarkan aku mengurung diri
di kamar tanpa melakukan kesalahan itu.
Tanpa terasa
tetes bening mengalir dari sudut mata, jatuh bersama harapan-harapan ibu
padaku. Ibu hanya bisa terpaku melihat ayah menamparku untuk kali pertama,
mungkin ibu yang selama ini memberi kepercayaan penuh padaku merasa tak percaya
dengan apa yang telah kulakukan. Berat hati memang tetapi apa boleh buat, ibu
lepas saja kepergianku dengan rintihan air mata saat ayah mengusirku pergi.
Kucoba tuk jelaskan apa yang terjadi, tapi ayah tak mau perduli. Ayah seret aku
keluar rumah diikuti tangisan adik-adikku yang belum mengerti apa-apa.
***
Tak ada niat apa lagi rencana, awalnya semua
berjalan seperti biasa. Setelah pulang sekolah, aku membantu orang tuaku di
tobong. Terkadang aku menyewakan jasa untuk menggembala kambing-kambing
tetangga. Uang yang kukumpulkan dari pengembalaan kambing itu bisa kutabung ,
sewaktu-waktu aku butuh tambahan untuk membeli buku pelajaran. Maklum saja
harga buku setingkat SMA memang mahal bagiku.
Orang tuaku mencari nafkah dengan mengoyak-oyak tanah,
mencetaknya dan menyusunnya hingga setinggi lima meter lebih. Bila ada pemesanan bata,
tak ayal ayah dan ibu mencetak bata hingga larut malam. Uang hasil pejualan
bata yang pas-pasan itu pun harus dipotong untuk pembayaran sewa tanah dan
pembelian kayu untuk pembakaran. Sungguh tak sebanding dengan tetes peluh
mereka. Bahkan untuk sebatang rokok pun ayah harus berfikir panjang. Kadang aku
mulai merasa jenuh dengan semua ini.
Di tengah padang
ilalang, kupuisikan hari-hariku. Semilir angin menyibakan terpaannya diiringi
nyanyian kambing-kambing yang kugembalakan. Namun itu semua masih tak bisa
memberikan jalan keluar atas masalah ini.
Kugapai kambing-kambing yang tengah asyik merumput, aku
menganggap mereka sebagai pelipur lara di tengah duka. Sambil kurapikan bulu
rimbunnya yang mulai agak kotor. Aku teringat rengekan adik-adikku subuh tadi,
sepulang dari masjid mereka meminta padaku mobil-mobilan seperti yang dimiliki
teman bermain mereka, Udin. Tak tega rasanya melihat mereka merengek seperti
itu, hanya janji-janji semu terlontar yang mungkin masih bisa menyematkan
senyum mereka.
Ditambah lagi harga penjualan bata mulai menurun akibat
musim kemarau dua bulan terakhir. Membuat persaingan penjualan bata melonjak
sedang orang tuaku hanya bisa mengurut dada. Apa yang bisa kuperbuat ? sebagai
anak lelaki pertama, ingin kuubah hidup walau hanya untuk makan sekali saja.
Setidaknya bisa kubuktikan bahwa
kelahiranku ada gunanya.
***
Pernah suatu ketika dalam perjalanan pulang dari sekolah
aku disuguhkan peristiwa tragis yang masih membekas di hati. Siang itu terasa
matahari begitu terik, bergegas kupercepat langkahku dengan sepatu yang
kusayangkan akan robek itu. Tiba-tiba dari kejauhan, terlihat sesosok wanita
paruh baya tersungkur ke tanah dibarengi suara caci maki samara-samar. Segera
kuhampiri sosok itu dengan tanya menghujan disetiap langkah. Sepertinya dari
warung Bu Hindun, sangkaku dalam hati.
Alangkah terkejutnya diriku melihat sosok itu adalah
ibunda tercintaku, segera ku gapai ibu kubantu ia bangun dengan berkaca-kaca
melihat penghinaan ini. Kuhampiri Bu Hindun yang terus berkicau, sempat terjadi
adu mulut. Kata-kata nya yang menganggap kami keluarga penghutang begitu
mengiris hati.
Tapi apa dikata, kami memang belum punya uang untuk
melunasi hutang. Terpaksa kami pulang sambil menelan semua hujatan-hujatan Bu
Hindun. Langkahku berat yang hanya bisa menyesali diri tanpa perlawanan yang
berarti. Sesampainya di rumah kupandangi wajah ayah yang menyambut ibu dengan
penuh khawatir. Wajah mereka yang begitu letih masih terus tegar di tengah
kejamnya hidup. Lekukan di wajah mereka yang semakin dalam melambangkan asam
garam kehidupan semakin pekat.
***
Seiring berjalannya waktu, penyakit-penyakit mulai
sering singgah pada ayah. Dari penyakit biasa sampai batu ginjal yang sudah beberapa bulan menggerogoti tubuh rapuhnya.
Sekarang ayah tidak bisa bekerja optimal, tentu pendapatan kami mengalami
penurunan.
Adik-adikku yang
berceloteh riang karena sebentar lagi mereka akan masuk Sekolah Dasar ditambah
lagi Ujian Nasional SMA semakin dekat, tapi kami belum punya biaya. Hanya
tabunganku dan ibu yang jumlahnya tak seberapa, itu pun terus berkurang untuk
menutupi kebutuhan sehari-hari
Ya, dunia. Mengapa hidup selalu dikait-kaitkan dengan
angka?, andai dunia penuh dengan bahasa perasaan mungkin tak ada keluarga
bernasib malang ,
mungkin hidup akan jadi lebih tolerir dengan warga miskin seperti kami.
***
Dengan masalah yang campur aduk dalam fikiranku, kujalani
keseharianku berbekal sabit dan karung tempat menaruh rumput. Kuperhatikan
betapa kambing–kambing yang gemuk pasti harganya mahal, uangnya tentu cukup
untuk membiayai kebutuhan keluargaku. Andai saja aku memiliki satu dari puluhan
kambing itu, gumamku berharap.
Entah apa yang merasukiku, ataupun pikiran kotorku yang
mulai menghantui. Dalam fikiranku sekarang hanya uang yang harus
kudapatkan dalam waktu dekat ini, padahal waktu bakar bata masih tiga bulan
lagi.
Gelap hati, gelap fikiran dan mata memang. Kuambil seekor
kambing milik Pak Jatmiko itu. Ah, satu saja tak begitu berpengaruh, toh Pak
Jatmiko masih punya ratusan kambing di peternakannya. Segera kubawa harapanku
itu ke pasar, tanpa banyak basa basi, orang-orang mulai berdatangan menawar.
Sore hari menjelang, dengan bersikap seperti biasa kupulangkan kambing-kambing
langsung kekandang. Syukurlah Pak Jatmiko tidak menaruh curiga akan
tingkahku.
Kadang hati kecilku teriak untuk apa ayah menyekolahkan
aku hingga SMA, toh akhirnya ilmu pengetahuan yang didapat malah
disalahgunakan. Tapi aku harus bagaimana lagi?, untuk makan sehari pun kami
harus berhutang, apa lagi rasa dari lauk-pauk sepertinya kami sudah lupa.
Tapi senangnya
hati ini, tak terbayang mainan apa yang akan kubelikan untuk adik-adikku, akhirnya
aku bisa mengikuti UN, adik-adikku bisa masuk sekolah seperti anak-anak lainnya
dan tak ada lagi hinaan dari Bu Hindun. Dengan uang tiga ratus ribu ini juga
sudah lebih dari cukup menghidupi keluargaku untuk beberapa bulan ke depan.
***
Di pagi buta alunan azan subuh menggema alam, paduan
kokok ayam bersautan diiringi kristal embun yang masih setia membelai dedaunan.
Namun sepertinya kudengar suara ribut sayup-sayup. Bergegas kuberanjak dari
ranjang riuhku. Kusangka masalah telah habis, tapi nampaknya tak seperti
harapan.
Pak Jatmiko datang dengan nada marah, Seketika jantungku
berdegup kencang. Aku takut masalah kambing kemarin sampai di telinga ayah.
Tiba-tiba ayah memanggilku, Langkah seret bersama rasa bersalah menyimpul dalam
benakku, Aku takut, takut ayah akan membenciku tapi kuberanikan diri untuk
bersaksi.
Pak Jatmiko yang sedari tadi berdalih bahwa kambingnya
hilang dan menuding aku yang mencurinya.
Ayah terus meyakinkan aku untuk mengatakan apa yang terjadi. Aku seakan disidang
walau sebenarnya kutahu aku akan dijatuhi hukuman. Wajahku tertunduk kaku
bertopeng penyesalan, dengan sejumput kepingan keberanianku akan kutumpahkan
kebenaran yang menusuk hati ayah. Untunglah Pak Jatmiko bisa menerima karena masih
menghargai ayah sebagai teman lama. Walaupun kutahu Pak Jatmiko belum
sepenuhnya memaafkan, terlebih lagi
ayah.
Berat hati ayah menerima kenyataan, harga dirinya yang
selalu ayah jaga dan ajarkan padaku, harus kubalas dengan corengan arang.
Setengah mati ayah menahan rasa malu dari hujatan tetangga akibat ulah bodohku.
Kini aku hanya bisa meratapi diri, kursi keretalah yang
pasti tahu dan kata-kata terakhir ayah yang tak bisa berganti.
“Ayah memang
miskin, tapi ayah bangga akan kemiskinan ini karena harga diri dan kejujuran
yang masih ayah jaga”. Tegas ayah bengis.
Pintu rumah sudah tertutup bagiku, entah kapan mereka
mau menerima diriku lagi. Bodonya aku, sumpah aku masih ingin miskin bersama
kalian lagi. Selamanya……
* Tobong adalah gubuk beratapkan
ilalang yang digunakan sebagai tempat
mencetak bata.
* Sabit adalah benda tajam semacam pisau yang berbentuk
lengkung.
- Label: Kisah
- (0) Comments
Selasa, 20 Maret 2012
Lampung Butuh Pemuda Demokratis
alhamdulillah,,tulisan ini telah mengisi halaman koran Lampung Post pada rabu, 21 Maret 2012...:) Lihat disini
Fungsi mahasiswa sebagai penggagas perubahan, khususnya di
Lampung, seharusnya diwujudkan dengan cara-cara positif serta tetap dalam
koridor demokrasi. Bukan mengatasnamakan demokrasi dan peran mahasiswa tapi
pada kenyataannya malah melenceng dari harapan alamamater yang disandangnya.
Aksi brutal yang sering mengisi jalan protokol yanng membuat macet
jalanan, apakah masih disebut demokrasi yang sehat? Bila penyampaian aspirasi
dilakukan dengan meminimalkan aksi anarki, semisal membuka forum dengan pejabat
atau demo yang terarah tentu akan menjadi angin segar bagi penguatan sistem
demokrasi.
Mahasiswa harus masuk mengambil perannya sebagai penerus masa
depan. Dari mahasiswa itulah ke depan diharapkan tidak ada lagi oknum pejabat
publik yang telah dipilih menjadi tuli di zona nyaman. Maka itu diharapkan
mahasiswa sebagai penerus masa depan dapat melahirkan pejabat yang menjunjung
tinggi demokrasi dan prorakyat.
Dalam kaitannya untuk Lampung, sudah saatnya Lampung yang kita
cintai ini membuka mata di hari-hari ke depan. Pencapaian selama 48 tahun
berdirinya Provinsi Lampung merupakan perjuangan yang panjang dan tidak mudah.
Dengan mengusung tema HUT Provinsi Lampung, Melalui kebangkitan 48 tahun Provinsi
Lampung Sai Bumi Ruwai Jurai, kita tingkatkan persatuan dan kesatuan masyarakat
menuju Lampung yang damai, sejahtera, dan berdaya saing, sudah
saatnya pemuda, khususnya mahasiswa, lebih proaktif membangun Lampung.
Melihat dari sejarah bedirinya Lampung hingga dapat tegak di atas
roda pemerintahan saat ini kita harus bersyukur. Kini kita dihadapkan pada kata
yang pernah dilontarkan Presiden Soekarno: "Beri aku 1.000 orang tua,
niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku satu pemuda, niscaya akan
kuguncangkan dunia."
Jamilatu Navera
Mahasiswa Kebidanan Poltekkes Tanjungkarang
- Label: Reportase
- (1) Comments
Senin, 06 Februari 2012
58 langkah APN
Untuk
melakukan asuhan persalinan normal (APN) dirumuskan 58 langkah asuhan
persalinan normal sebagai berikut:
1. Mendengar
& Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2.
Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul
oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus
set.
3. Memakai
celemek plastik.
4.
Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air
mengalir.
5.
Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk
pemeriksaan dalam.
6. Mengambil
alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan
letakan kembali kedalam wadah partus set.
7. Membersihkan
vulva dan perineum dengan kapas basah yang telah dibasahi oleh air matang
(DTT), dengan gerakan vulva ke perineum.
8. Melakukan
pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah
pecah.
9.
Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%,
membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan
klorin 0,5%.
10.
Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ
dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11. Memberi
tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk
meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.
12. Meminta
bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his,
bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13.
Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14.
Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika
ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
15.
Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala
bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16.
Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka
tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
18. Memakai
sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19. Saat
kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk
bersih pada perut ibu untuk mengeringkan bayi jika telah lahir dan kain kering
dan bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu. Setelah itu kita
melakukan perasat stenan (perasat untuk melindungi perineum dngan satu tangan,
dibawah kain bersih dan kering, ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4
jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi.
Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar
secara bertahap melewati introitus dan perineum).
20. Setelah
kepala keluar menyeka mulut dan hidung bayi dengan kasa steril kemudian
memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu
hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22. Setelah
kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan
kepada ibu
untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan
distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah
atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23. Setelah
bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala,
lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan
memegang tangan dan siku sebelah atas.
24. Setelah
badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan
tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan
kiri diantara kedua lutut janin)
25.
Melakukan penilaian selintas :
a. Apakah
bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
b. Apakah
bayi bergerak aktif ?
26.
Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya
kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan
handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.
27.
Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
28. Memberitahu
ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.
29. Dalam
waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler)
di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan
oksitosin).
30. Setelah
2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari
pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali
tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. Dengan
satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan
lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
32. Mengikat
tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan
kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33.
Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga
berjarak 5 -10 cm dari vulva
35.
Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk
mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah
uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara
tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40
detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi
berikutnya dan mengulangi prosedur.
37.
melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta
ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan
kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan
dorso-kranial).
38. Setelah
plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila
perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan
putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya
selaput ketuban.
39. Segera
setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok
fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba
keras)
40. Periksa
bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan
bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan
kedalam kantong plastik yang tersedia.
41. Evaluasi
kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila
laserasi menyebabkan perdarahan.
42.
Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam.
43.
Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling
sedikit 1 jam.
44. Setelah
satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik
profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.
45. Setelah
satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha
kanan anterolateral.
46.
Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
47.
Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48. Evaluasi
dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49.
Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam
pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
50.
Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.
51.
Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.
52. Buang
bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
53.
Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban,
lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan kering.
54.
Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu
ingin minum.
55.
Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56.
Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung
tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57. Mencuci
tangan dengan sabun dan air mengalir.
58. Melengkapi partograf.
- Label: Materi Kebidanan
- (0) Comments
Langganan:
Komentar (Atom)

