Minggu, 28 Oktober 2012

YANG MUDA YANG BERKARYA, LALU APA KARYAMU?



Hiduplah dengan hatimu, bukan fikranmu

Hati akan membawa fikiran ke mata air, fikiran akan membawa hatimu ke jalan tak berujung

(Gol A Gong) 


Malam yang menginspirasi bersama Metro TV. Tangan ini seakan gatal jika tidak menuliskan kisah bersemangat yang kusaksikan. Jari ini segera menari diatas tuts “Si Black” laptop tercinta. Ini dia salah satu bentuk pengabdian perusahaan bonafit yang tetap perduli kemajuan bangsa. Salut untuk PT. ASTRA. Satu (Semangat Astra Untuk) Indonesia Awwards yang dipersembahkan oleh PT. Astra Internasional Indonesia.
Diawali dengan puisi nasionalis yang gagah dibacakan oleh Dian Sastro. Dian Sstro tampil dengan balutan busanan tradisional yang sederhana nan anggun. Seakan memompakan berjuta kubik semangat menyambut lahirnya pahlawan-pahlawan muda Indonesia.
Satu persatu kategori awward dibacakan oleh Charles Bonar Sirait dan Artika Sari Devi. Ssampailah pada pembacaan kategori pertama yaitu Katergori Bidang Lingkungan hidup yang diraih oleh siswa SMA bernama Darma sucipto berusia 18 tahun dengan menggaas jajanan sehat dari Gresik. Bersama teman-temannya ia menyulap halaman kosong sekolahnya menjadi kebun ubi jalar yang bergizi. Dengan harga jual yang rendah namun memberikan manfaat besar bagi kelangsungan hidup rakyat banyak. Karena sikap kreatif dari pemikiran yang digagasnya, banyak sekolah-sekolah yang mulai mengikuti langkah siswa berjiwa sosial ini.
Ketegori selanjutnya, Katergori bidang pendidikan dibacakan oleh Mantan Wamen Kesehatan 2010-2011, Bpk Fasli Jalal. Mengisahkan kontribusi seorang anak usia 18 tahun yang mengelorakan semangat membaca bagi warga yang kurang mampu. Perpustakaan untuk semua digagasnya. Pembebas Buta huruf dan inovator sepanjang hayat, Eko Cahyono dari Malang. Rak buku berderet-deret dengan tataan rapih menggambarkan semangatnya menyalakan lentera literasi Indonesia.
Intermezzo: Lagu laskar pelangi menjadi paduan yang apik dalam acara awwards yang menginspirasi. Alunan suara 5romeo menambah kekaguman dari pahlawan-pahlawan muda Indonesia. Bentuk kepahlawanan masa kini yang lebih elegan dan menyatu. Inilah potongan lagu yang menginspirasi jiwa muda Indonesia. Sedikit potongan lagu menginspirasi pada malam penghargaan ini:
Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia, selamanya....
(Nidji Band oleh 5 Romeo)
Lagu-lagu selanjutnya pun mengalun indah dari suara aktris dan peyanyi profesional seperti Putri Ayu yang membawakan lagu daerah Pisau serit. Suara yang energik dipadu dengan paduan musik apik dari Yopie Widianto Light Orkestra.
Kategori berkutnya yaitu Kategori bidang Kewirausahaan yang dibacakan oleh ibu Tri Mumpuni. Beliau mengungkapkan, Ulet, pantang putus asa, dan berani mengambil resiko adalah tiga hal pokok yang mendasari ketangguhan dan semangat Novianto. Usianya baru 33 tahun, namun Novianto telah berhasil memberikan semangat bagi rakyat sekitar dengan gagasannya yaitu sebuah pabrik keju kerakyatan di Boyolali.
Kembali diselingi sebuah puisi menginspirasi dari Dian Sastro yang mengungkapkan indahnya kerjasama dan kedamaian melalui saling berbagi, kemudian diikuti lantunan suara Sani Shandoro yang menghentak.  Hingar bingar ska cukup mendominasi Ball room luas tempat acara prestisius ini. Sebuah lagu dengan misi pesan damai gubahan Guruh Soekarno memunculkan energi positif. Lagu kedua hadir dengan membawa kenangan pada sosok Krisye, dialunkan lembut dengan suara Sani yang penuh energi.
Penggerak kesehatan ibu dan anak, ibu Rosmiati dari Riau menjadi penerima penghargaan dalam kategori bidang kesehatan. Hmm, ini bGIn Yng menyatu dengan almamater yang kusandang. Tapi sayang aku melewatkan detik-detik penerimaan penghargaan karena pinah chanel.. Yang kusaksikan hanya saat penerimaan simbolis penghargaan oleh suami Ibu Rosmiati, beliau tidak bisa hadir karena proses kelahiran anaknya. Hmm,,sekali lagi, aku lebih suka atmosfir ini. Kebaktiannya yang tulus dengan profesi kesehatannya. Ini menginspirasi.....^_^
Selanjutnya, Kategori bidang teknologi di bacakan oleh Bpk Ono Purbo, pakar teknologi dan Informasi. Kategori Bidang teknologi berhasil diraih seorang pemuda kreatif yang prihatin dengan keadaan desanya yang belum teraliri listrik. Ide dari seorang pemuda membuat kincir air bersama dengan warga desa untuk membentuk listrik desa. Listrik desa yang ikut menyalakan kegirangan bocah-bocah ketika belajar bersama dibawah sinaran lampu yang mengantarkannya pada masa depan yang lebih baik. Ide cemerlang ini berawal dari seorang pemuda 24 tahun pada tahun 2008. Dengan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga air membuat harapan desa menyala, bukanlah lagi sekadar asa. Bahkan ia berhasil menginspirasi desa-desa lain untuk ikut mencontoh kiat sukses dari desanya. Pecetus terang desa dari Makasar, Harianto Albar.
Suara lembut dan energi dari Dian Sastro kembali membumi....
Diakhir acara kedua pembawa acara menyampaikan besar royalti dari Aresiasi ini untuk masing-masing peraih penghargaan sejumlah 55juta rupiah. Bagi pemenang favorit pilihan publik terfavorit diraih oleh Eko Cahyono Sang pembebas buta huruf dari malang, dengan tambahan royalti sebesar 10 juta rupiah.
INSPIRING......^_^
Hal yang besar bermula dari yang kecil,
(Charles Bonar Sirait)

RENUNGAN SEJENAK, APA YANG TELAH KAU BERI DAN APA YANG AKAN KAU BAWA NANTI?



Kita diciptakan tidaklah sempurna, namun dengan label yang terbaik

(Sebening Embun)

Saya melihat banyak keluasan dan semangat membangun dalam diri segelintir orang yang pernah saya temui. Saya senang menyebutnya sebagai orang yang menginspirasi dengan ketulusan dan keikhlasannya. Sebuah rasa ilahiah yang telah tertanam dalam diri masing-masing manusia. Sifat humanity dan devloper yang tak bisa kita pungkiri dalam jiwa individu-individu. Menurut penggagas ESQ, Ary Ginanjar Agustian, itulah subuah ruh tiupan tuhan yang telah buit in dalam jiwa manusia. Masalahnya sekarang adalah sejauh mana kita yakin dan dapat memanfaatkan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya sifat maha mulia Tuhan yang telah diwakilkan dlaam jiwa kita.
Kita diciptakan tidaklah sempurna, namun dengan label yang terbaik. Kadang kebaikan tidak melulu menuntut kesempurnaan baukan ?, dan kesempurnaan juga belum tentu menelurkan kebaikan. Tuhan maha tahu diri setiap manusia, bahkan lebih tahu dari kita mengenal diri kita. Dalam proses mengenal diri ini, tidak harus kesempunaan yang kita fokuskan tapi lebih pada kebaikan yang dapat kita semai dengan kecerdasan kita yang menonjol dan unggul. Prinsip Tawadzun (keseimabangan) tetaplah mengakar dalam konteks ini tentunya.
Semua penjelasan dan pelajaran yang saya temui, dengar, rasakan, dan saya jalani bahkan, sejenak mengusik batinku, Apa yang telah aku lakukan bagi sesama?. Tidak ada atau mungkin belum ada, hanya diri ini yang bisa menjawabnya. Jiwa dan fikiran ini berfikir keras tentang keeksisan kontribusi diri demi kemajuan bangsa, negara dan agama. Kapan aku bisa menjawabnya?, melaksanakannya? Atau hanya diam sambil asyik masyuk merancang angan yang sekadar blue print yang tak nyata.
Jawabannya telah kita ketahui sebenarnya, dari mana?. Dari komitmen yang kita munculkan saat ini atau bahkan kemarin, seminggu yang lalu atau bahkan sepuluh tahun yang lalu tenang kemaknaan hidup yang sebenarya. Semua terserah pada kita untuk bersedian actio atau hanya jadi seorang penggagas handal yang sukses diata kertas tanpa hasil kerja yang nyata. Ini mengetarkan jiwaku setiap aku menyaksikan keironian hidup, membuatku terus bertanya berulang-ulang: Apa yang telah aku lakukan untuk mereka? Untuk hidup mereka?. Hidup ini tidak melulu berkiprah diantara angka dan perhitungan materil tentunya. Kebahagian dan eksistensi jiwa mutlak dibutuhkan dan itu tidak berharga nilainya. Bukan karena ia rendah tapi lebih karena kebernilaian yang sangat tinggi yang membuat ia tidak bisa digantikan dengan apapun. Inilah kehausan jiwa yang  akut. Ia ingin disiram dengan hal lain yang bernama spiritual yang in action.
Tidak ada yang mati disini kecualai sudah terkubur
(silvester stylon)

Rabu, 21 Maret 2012

AKU MASIH INGIN MISKIN


Cerpen ini diilhami dari salah satu lagu milik Iwan Fals (namun judulnya saya lupa..:)). Sebuah lagu yang jujur dengan dunia. Saya tulis saat masih duduk di bangku SMA. Mengajarkan saya betapa hidup itu penuh dengan pilihan. Inilah kisahnya.... 

Deru mesin panjang itu menggebu lepas, menelan semua yang coba menghalanginya. Keriuhan anak adam hilir mudik memungut keuntungan, entah halal haram hantam. Jeritan mesin sedari tadi seolah terbiasa bagi lelaki separuh baya yang terlelap disampingku. Nyenyak tanpa hambatan.
            Ternyata beberapa ayat-ayat pendek Al-Qur’an yang biasanya dapat menenangkan batinku, tetap tak bisa menghapus pintas kejadian itu dalam ingatan. Bahkan dua stasiun kulewati di atas kursi reot yang telah lama menopang tubuh dan penatku. Menandakan putaran kala yang cukup panjang. Kusadari ini perbuatanku yang paling fatal dalam perjalanan fana ini.
            Nyiur angin terus membasuh wajahku lewat jendela kereta senja, sambil bertopang dagu meratapi diri. Kuterawang jauh di sana sarang burung bergelayutan juga lantah langit yang mulai memalu, tanda penjemputan dewi rembulan.
            Masih dalam lamunan penyesalan, aku meninggalkan tanah kelahiranku dengan cara yang tak terhormat. Sebuah desa kecil nan makmur, tempatku berkeluh riang di bawah tobong sambil bercengkerama dengan cacing-cacing tanah.Gelak tawa adik-adikku yang bermain dengan debu-debu. Tak bisa lagi kumembayangi berapa lama aku bisa menahan rasa rindu atas kepergian ini. Rindu tebalku tak tertahankan pada ibu, ayah, dan dua pahlawan cilikku.
 Kini, tak bisa lagi kudengar nyayian siraman air ke atas gundukan tanah, tak bisa lagi kucium asap pembakaran bata-bata siap jual, bahkan tak juga dengan lekatnya tanah pada sela jariku. Sungguh rinduku terus menebal.
            Aku rindu semua, aku ingin membangun kembali kepercayaan ayah padaku, menebusnya melebihi kasih sayangnya, jiwa tegarnya dan harga diri ayah. Memang pantas ayah kehilangan satu anak tuk harga diri, Biarpun kami tak punya harta, tak punya gelar, namun kami masih memiliki harga diri. Kata-kata itulah yang terus ayah pegang teguh dalam batinnya, walau kini tubuhnya sudah merapu dimakan usia. Tapi sekarang hanya coreng hitam yang kutinggalkan di wajah ayah dan rasa malu teramat sangat yang melekat di keluargaku. Andaikan waktu bisa berjalan mundur, biarkan aku mengurung diri di kamar tanpa melakukan kesalahan itu.
 Tanpa terasa tetes bening mengalir dari sudut mata, jatuh bersama harapan-harapan ibu padaku. Ibu hanya bisa terpaku melihat ayah menamparku untuk kali pertama, mungkin ibu yang selama ini memberi kepercayaan penuh padaku merasa tak percaya dengan apa yang telah kulakukan. Berat hati memang tetapi apa boleh buat, ibu lepas saja kepergianku dengan rintihan air mata saat ayah mengusirku pergi. Kucoba tuk jelaskan apa yang terjadi, tapi ayah tak mau perduli. Ayah seret aku keluar rumah diikuti tangisan adik-adikku yang belum mengerti apa-apa.
***
  Tak ada niat apa lagi rencana, awalnya semua berjalan seperti biasa. Setelah pulang sekolah, aku membantu orang tuaku di tobong. Terkadang aku menyewakan jasa untuk menggembala kambing-kambing tetangga. Uang yang kukumpulkan dari pengembalaan kambing itu bisa kutabung , sewaktu-waktu aku butuh tambahan untuk membeli buku pelajaran. Maklum saja harga buku setingkat SMA memang mahal bagiku.
Orang tuaku mencari nafkah dengan mengoyak-oyak tanah, mencetaknya dan menyusunnya hingga setinggi lima meter lebih. Bila ada pemesanan bata, tak ayal ayah dan ibu mencetak bata hingga larut malam. Uang hasil pejualan bata yang pas-pasan itu pun harus dipotong untuk pembayaran sewa tanah dan pembelian kayu untuk pembakaran. Sungguh tak sebanding dengan tetes peluh mereka. Bahkan untuk sebatang rokok pun ayah harus berfikir panjang. Kadang aku mulai merasa jenuh dengan semua ini.
Di tengah padang ilalang, kupuisikan hari-hariku. Semilir angin menyibakan terpaannya diiringi nyanyian kambing-kambing yang kugembalakan. Namun itu semua masih tak bisa memberikan jalan keluar atas masalah ini.
Kugapai kambing-kambing yang tengah asyik merumput, aku menganggap mereka sebagai pelipur lara di tengah duka. Sambil kurapikan bulu rimbunnya yang mulai agak kotor. Aku teringat rengekan adik-adikku subuh tadi, sepulang dari masjid mereka meminta padaku mobil-mobilan seperti yang dimiliki teman bermain mereka, Udin. Tak tega rasanya melihat mereka merengek seperti itu, hanya janji-janji semu terlontar yang mungkin masih bisa menyematkan senyum mereka.
Ditambah lagi harga penjualan bata mulai menurun akibat musim kemarau dua bulan terakhir. Membuat persaingan penjualan bata melonjak sedang orang tuaku hanya bisa mengurut dada. Apa yang bisa kuperbuat ? sebagai anak lelaki pertama, ingin kuubah hidup walau hanya untuk makan sekali saja. Setidaknya bisa  kubuktikan bahwa kelahiranku ada gunanya.
***
Pernah suatu ketika dalam perjalanan pulang dari sekolah aku disuguhkan peristiwa tragis yang masih membekas di hati. Siang itu terasa matahari begitu terik, bergegas kupercepat langkahku dengan sepatu yang kusayangkan akan robek itu. Tiba-tiba dari kejauhan, terlihat sesosok wanita paruh baya tersungkur ke tanah dibarengi suara caci maki samara-samar. Segera kuhampiri sosok itu dengan tanya menghujan disetiap langkah. Sepertinya dari warung Bu Hindun, sangkaku dalam hati.
Alangkah terkejutnya diriku melihat sosok itu adalah ibunda tercintaku, segera ku gapai ibu kubantu ia bangun dengan berkaca-kaca melihat penghinaan ini. Kuhampiri Bu Hindun yang terus berkicau, sempat terjadi adu mulut. Kata-kata nya yang menganggap kami keluarga penghutang begitu mengiris hati.
Tapi apa dikata, kami memang belum punya uang untuk melunasi hutang. Terpaksa kami pulang sambil menelan semua hujatan-hujatan Bu Hindun. Langkahku berat yang hanya bisa menyesali diri tanpa perlawanan yang berarti. Sesampainya di rumah kupandangi wajah ayah yang menyambut ibu dengan penuh khawatir. Wajah mereka yang begitu letih masih terus tegar di tengah kejamnya hidup. Lekukan di wajah mereka yang semakin dalam melambangkan asam garam kehidupan semakin pekat.
***
Seiring berjalannya waktu, penyakit-penyakit mulai sering singgah pada ayah. Dari penyakit biasa sampai batu ginjal yang sudah beberapa bulan menggerogoti tubuh rapuhnya. Sekarang ayah tidak bisa bekerja optimal, tentu pendapatan kami mengalami penurunan.
 Adik-adikku yang berceloteh riang karena sebentar lagi mereka akan masuk Sekolah Dasar ditambah lagi Ujian Nasional SMA semakin dekat, tapi kami belum punya biaya. Hanya tabunganku dan ibu yang jumlahnya tak seberapa, itu pun terus berkurang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari
Ya, dunia. Mengapa hidup selalu dikait-kaitkan dengan angka?, andai dunia penuh dengan bahasa perasaan mungkin tak ada keluarga bernasib malang, mungkin hidup akan jadi lebih tolerir dengan warga miskin seperti kami.
***
Dengan masalah yang campur aduk dalam fikiranku, kujalani keseharianku berbekal sabit dan karung tempat menaruh rumput. Kuperhatikan betapa kambing–kambing yang gemuk pasti harganya mahal, uangnya tentu cukup untuk membiayai kebutuhan keluargaku. Andai saja aku memiliki satu dari puluhan kambing itu, gumamku berharap.
Entah apa yang merasukiku, ataupun pikiran kotorku yang mulai menghantui.   Dalam fikiranku sekarang hanya uang yang harus kudapatkan dalam waktu dekat ini, padahal waktu bakar bata masih tiga bulan lagi.
Gelap hati, gelap fikiran dan mata memang. Kuambil seekor kambing milik Pak Jatmiko itu. Ah, satu saja tak begitu berpengaruh, toh Pak Jatmiko masih punya ratusan kambing di peternakannya. Segera kubawa harapanku itu ke pasar, tanpa banyak basa basi, orang-orang mulai berdatangan menawar. Sore hari menjelang, dengan bersikap seperti biasa kupulangkan kambing-kambing langsung kekandang. Syukurlah Pak Jatmiko tidak menaruh curiga akan tingkahku. 
Kadang hati kecilku teriak untuk apa ayah menyekolahkan aku hingga SMA, toh akhirnya ilmu pengetahuan yang didapat malah disalahgunakan. Tapi aku harus bagaimana lagi?, untuk makan sehari pun kami harus berhutang, apa lagi rasa dari lauk-pauk sepertinya kami sudah lupa.
 Tapi senangnya hati ini, tak terbayang mainan apa yang akan kubelikan untuk adik-adikku, akhirnya aku bisa mengikuti UN, adik-adikku bisa masuk sekolah seperti anak-anak lainnya dan tak ada lagi hinaan dari Bu Hindun. Dengan uang tiga ratus ribu ini juga sudah lebih dari cukup menghidupi keluargaku untuk beberapa bulan ke depan.   
***
Di pagi buta alunan azan subuh menggema alam, paduan kokok ayam bersautan diiringi kristal embun yang masih setia membelai dedaunan. Namun sepertinya kudengar suara ribut sayup-sayup. Bergegas kuberanjak dari ranjang riuhku. Kusangka masalah telah habis, tapi nampaknya tak seperti harapan.
Pak Jatmiko datang dengan nada marah, Seketika jantungku berdegup kencang. Aku takut masalah kambing kemarin sampai di telinga ayah. Tiba-tiba ayah memanggilku, Langkah seret bersama rasa bersalah menyimpul dalam benakku, Aku takut, takut ayah akan membenciku tapi kuberanikan diri untuk bersaksi.
Pak Jatmiko yang sedari tadi berdalih bahwa kambingnya hilang dan menuding  aku yang mencurinya. Ayah terus meyakinkan aku untuk mengatakan apa yang terjadi. Aku seakan disidang walau sebenarnya kutahu aku akan dijatuhi hukuman. Wajahku tertunduk kaku bertopeng penyesalan, dengan sejumput kepingan keberanianku akan kutumpahkan kebenaran yang menusuk hati ayah. Untunglah Pak Jatmiko bisa menerima karena masih menghargai ayah sebagai teman lama. Walaupun kutahu Pak Jatmiko belum sepenuhnya memaafkan,  terlebih lagi ayah.
Berat hati ayah menerima kenyataan, harga dirinya yang selalu ayah jaga dan ajarkan padaku, harus kubalas dengan corengan arang. Setengah mati ayah menahan rasa malu dari hujatan tetangga akibat ulah bodohku.
Kini aku hanya bisa meratapi diri, kursi keretalah yang pasti tahu dan kata-kata terakhir ayah yang tak bisa berganti.                 
“Ayah memang miskin, tapi ayah bangga akan kemiskinan ini karena harga diri dan kejujuran yang masih ayah jaga”. Tegas ayah bengis.
Pintu rumah sudah tertutup bagiku, entah kapan mereka mau menerima diriku lagi. Bodonya aku, sumpah aku masih ingin miskin bersama kalian lagi. Selamanya……
 
* Tobong adalah gubuk beratapkan ilalang yang digunakan sebagai tempat                                                                                                                               mencetak bata.
* Sabit adalah benda tajam semacam pisau yang berbentuk lengkung.


Selasa, 20 Maret 2012

Lampung Butuh Pemuda Demokratis



alhamdulillah,,tulisan ini telah mengisi halaman koran Lampung Post pada rabu, 21 Maret 2012...:) Lihat disini

Fungsi mahasiswa sebagai penggagas perubahan, khususnya di Lampung, seharusnya diwujudkan dengan cara-cara positif serta tetap dalam koridor demokrasi. Bukan mengatasnamakan demokrasi dan peran mahasiswa tapi pada kenyataannya malah melenceng dari harapan alamamater yang disandangnya.
Aksi brutal yang sering mengisi jalan protokol yanng membuat macet jalanan, apakah masih disebut demokrasi yang sehat? Bila penyampaian aspirasi dilakukan dengan meminimalkan aksi anarki, semisal membuka forum dengan pejabat atau demo yang terarah tentu akan menjadi angin segar bagi penguatan sistem demokrasi.
Mahasiswa harus masuk mengambil perannya sebagai penerus masa depan. Dari mahasiswa itulah ke depan diharapkan tidak ada lagi oknum pejabat publik yang telah dipilih menjadi tuli di zona nyaman. Maka itu diharapkan mahasiswa sebagai penerus masa depan dapat melahirkan pejabat yang menjunjung tinggi demokrasi dan prorakyat.
Dalam kaitannya untuk Lampung, sudah saatnya Lampung yang kita cintai ini membuka mata di hari-hari ke depan. Pencapaian selama 48 tahun berdirinya Provinsi Lampung merupakan perjuangan yang panjang dan tidak mudah. Dengan mengusung tema HUT Provinsi Lampung, Melalui kebangkitan 48 tahun Provinsi Lampung Sai Bumi Ruwai Jurai, kita tingkatkan persatuan dan kesatuan masyarakat menuju Lampung yang damai, sejahtera, dan berdaya saing, sudah saatnya pemuda, khususnya mahasiswa, lebih proaktif membangun Lampung.
Melihat dari sejarah bedirinya Lampung hingga dapat tegak di atas roda pemerintahan saat ini kita harus bersyukur. Kini kita dihadapkan pada kata yang pernah dilontarkan Presiden Soekarno: "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."
Jamilatu Navera
Mahasiswa Kebidanan Poltekkes Tanjungkarang

Senin, 06 Februari 2012

58 langkah APN


Untuk melakukan asuhan persalinan normal (APN) dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut:

1. Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.
3. Memakai celemek plastik.
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah yang telah dibasahi oleh air matang (DTT), dengan gerakan vulva ke perineum.
8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih pada perut ibu untuk mengeringkan bayi jika telah lahir dan kain kering dan bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu. Setelah itu kita melakukan perasat stenan (perasat untuk melindungi perineum dngan satu tangan, dibawah kain bersih dan kering, ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum).
20. Setelah kepala keluar menyeka mulut dan hidung bayi dengan kasa steril kemudian memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan
kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)
25. Melakukan penilaian selintas :
a. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
b. Apakah bayi bergerak aktif ?
26. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva
35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
37. melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.
45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.
51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.
52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan kering.
54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.
55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
58. Melengkapi partograf.

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates